Profesi Langka yang Bertahan di Tengah Sawah
Tukang angon bebek, Kalibening, Banjarnegara, Rabu 18 juni 2025-Pujud Andriastanto/Radar Banyumas-
Padahal menurutnya, cara menggembala keliling seperti ini jauh lebih hemat dibanding sistem kandang permanen. Bebek tak perlu diberi pakan mahal, cukup memakan sisa-sisa lahan yang baru dipanen. Tak hanya itu, sistem ini pun lebih ramah lingkungan dan membantu regenerasi tanah.
BACA JUGA:Bumbu Giling Laris Manis, Antrean Panjang Jadi Cerita Tradisi
Namun jalan ini tidak mudah. Qodri kerap berhadapan dengan tantangan cuaca ekstrem, penyakit ternak, hingga serangan hewan liar.
Masalah lain muncul ketika bebek dari kelompok berbeda bercampur dan tersesat. "Pagi atau sore kami saling hitung. Kalau lebih satu, biasanya itu nyasar. Kami langsung tawarkan ke angon lain" ucapnya.
Setiap hari, ia berjalan puluhan kilometer. Tidur hanya beralaskan tikar plastik, tanpa listrik, tanpa dinding. Jika seekor bebek sakit atau terkena lintah di mulut, ia harus cepat bertindak.
"Kalau telat, bisa mati. Kalau lintah masih di tenggorokan harus dicabut cepat. Kalau tertelan, bisa bahaya" katanya sambil menunjukkan lintah kecil dari kantong celana.
BACA JUGA:Video Literasi Siswa SMPN 1 Mrebet Moncer di Tingkat Jawa Tengah
Meski upahnya hanya sekitar dua juta rupiah per bulan, Qodri tak pernah mengeluh. Ia merasa justru pekerjaan ini memberinya kebebasan, ketenangan, dan ruang untuk tetap jujur pada hidup.
"Kadang saya pikir di antara semua pekerjaan, ini yang paling jujur. Alam tahu siapa yang kerja sungguh-sungguh" ucapnya dengan tatapan jauh ke arah sawah.
Di tengah sawah yang mulai mengering, suara bebek yang bersahutan bukan sekadar riuh. Itu adalah nyanyian lama dari satu profesi yang pelan-pelan mulai dilupakan. Namun bagi Qodri, suara itu justru panggilan. Bukan untuk nostalgia, tapi untuk merawat cara hidup yang semakin langka.
"Kalau kami tidak ada banyak lahan sawah yang jadi sarang hama. Bebek-bebek ini membantu petani juga bukan cuma bertelur" tutupnya.
Di saat profesi lain ditinggalkan karena dianggap kuno, Qodri justru tetap di jalur itu. Bukan karena tak mampu beradaptasi, tapi karena ia percaya bahwa suara-suara 'wek wek wek' itu menyimpan sesuatu yang tak bisa dibeli zaman.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:

