Stunting Picu Perlambatan Ekonomi
PERINGATAN : Perwakilan BKKBN Jateng saat menekankan untuk mengatasi stunting dan meminimalkan penyebabnya, Senin (18/7). (DINKOMINFOPURBALINGGA UNTUK RADARMAS)
PURBALINGGA - Stunting atau gagal tumbuh masih menjadi pekerjaan rumah (PR) Pemkab Purbalingga.
Meski perkembangan semakin bisa ditekan, namun yang sudah terlanjur ada, dikhawatirkan bisa berdampak sistemik. Karena bisa memicu perlambatan ekonomi.
Hal itu diungkapkan Asisten Pemerintahan dan Kesra Sekda, R Imam Wahyudi pada acara Gerak Stunting Tingkat Kabupaten Eks-karesidenan Banyumas yang diselenggarakan perwakilan BKKBN Jawa Tengah, Senin (18/7) di salah satu hotel di Purbalingga.
Menurutnya, stunting bisa menimbulkan dampak sistemik yang tidak sederhana seperti perlambatan laju pertumbuhan ekonomi negara. Pasalnya, kualitas SDM dari orang yang stunting rendah.
"Dampak stunting tidak sederhana yaitu bisa menyebabkan perlambatan laju ekonomi pada suatu bangsa karena beberapa hal," ungkapnya.
Dia mencontohkan, tingkat kecerdasan anak stunting akan kalah dengan yang tidak stunting. Sehingga mempengaruhi angka kemiskinan. Capaian ilmu pengetahuan dan teknologi dari anak stunting akan kalah, sehingga perlu dilakukan intervensi mendalam dari berbagai pihak.
"Ilmu pengetahuan dan teknologi tentu akan kalah jika stunting juga tinggi sehingga perlu intervensi dari berbagai pihak," imbuhnya.
https://radarbanyumas.co.id/angka-stunting-purbalingga-diklaim-terus-menurun/
Pada kesempatan yang sama, Kepala perwakilan BKKBN Jawa Tengah, Widwiono menuturkan, Gubernur Jawa Tengah menargetkan penurunan stunting 14 persen di tahun 2023 sebelum target yang ditetapkan oleh pemerintah pusat yaitu di tahun 2024.
PERINGATAN : Perwakilan BKKBN Jateng saat menekankan untuk mengatasi stunting dan meminimalkan penyebabnya, Senin (18/7). (DINKOMINFOPURBALINGGA UNTUK RADARMAS)
Dia juga mengapresiasi Bupati Purbalingga Dyah Hayuning Pratiwi SE BEcon MM yang mempunyai komitmen tinggi untuk menurunkan angka prevalensi stunting di Kabupaten Purbalingga.
"Komitmen tinggi untuk menurunkan angka prevalensi stunting di Kabupaten Purbalingga sangat terasa dampaknya. Melalui aksi-aksi yang telah dilakukan," katanya.
Data yang dihimpun Radarmas dari Bappelitbangda Purbalingga, prevalensi stunting selama 5 tahun terakhir memberikan kemajuan yang cukup baik. Setiap tahun mengalami penurunan.
Tahun 2017 di angka 28,4 persen dan turun di angka 26,4 persen pada tahun 2018. Tahun 2019 kembali turun sampai posisi angka 17,8 persen.
Kemudian secara perlahan terus menurun sampai angka 16,93 persen pada tahun 2020 dan 15,7 persen pada tahun 2021. (amr)
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
