Merawat 30 Juz, Menyapa Podium
Mahasiswi Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri (UIN Saizu) Purwokerto, Halya Nur Ajilla. -JUNI R/RADARMAS-
Di ruang tunggu peserta, suhunya terasa panas-dingin. Jantung berdegup, napas ditata. Di balik bilik itu, lembar-lembar ayat suci menanti untuk diuji oleh para mahaguru.
JUNI R, Purwokerto
BAGI Halya Nur Ajilla, pemandangan itu bukan lagi hal asing. Lima tahun sudah mahasiswi Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri (UIN Saizu) Purwokerto, ini akrab dengan atmosfer ketegangan panggung Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) tingkat nasional.
Namun, panggung MTQ Nasional XXXI 2026 di tahun ini menyuguhkan rasa yang berbeda.
Untuk pertama kalinya, setelah setengah dekade berjuang tanpa henti, nama Halya dipanggil naik ke podium. Ia sukses mengamankan posisi Juara II cabang Musabaqah Hifzhil Qur’an (MHQ) 30 Juz Putri, mempersembahkan senyum kebanggaan bagi Kafilah Jawa Tengah.
"Alhamdulillah tentunya bersyukur dan sangat terharu, sebab setelah lima tahun berlaga di nasional, baru tahun ini bisa masuk tiga besar," ujar Halya.
Perjalanan perempuan kelahiran 2004 ini jauh dari kata instan. Benih-benih kecintaannya pada Kitab Suci ditanam sejak ia menjadi santri di Pondok Pesantren Al Falah, Bobosan, medio 2014 hingga 2018. Dari bilik pesantren itulah 30 juz Al-Qur’an meresap ke dalam ingatannya, menjadi bekal yang ia rawat hingga menjejak gerbang perguruan tinggi.
Langkah nasionalnya dimulai pada 2022. Usai menyabet Juara I tingkat Provinsi Jawa Tengah, ia resmi diutus mewakili provinsi ke panggung nasional di Kalimantan Selatan. Sejak saat itu, namanya langganan menghiasi daftar kafilah: Jambi pada 2023, Kalimantan Timur pada 2024, hingga Sulawesi Tenggara pada 2025.
Tahun demi tahun berganti, piala belum juga singgah di tangannya. Namun, Halya memilih jalan istiqamah.
Menjaga 30 juz di kepala sembari merampungkan bangku kuliah tentu bukan perkara sepele. Resepnya sederhana tapi menuntut disiplin baja: komitmen ketat membagi ruang.
"Kalau lagi di kampus ya fokus kuliah, kalau lagi di pondok ya fokus ngaji," katanya.
Tentu, kejenuhan dan rasa malas kerap datang bertamu, terutama kala tugas akademik menumpuk. Menghadapinya, ia memilih kembali menatap tanggung jawab morilnya pada hafalan.
Menjelang kompetisi, ritme latihan digenjot. Ia rutin murajaah dengan tartil, memberi perhatian ekstra pada ayat-ayat mutasyabihat—ayat yang serupa namun tak sama—serta disiplin menjaga fisik lewat pola tidur dan olahraga.
Bagi anak muda yang gemar mengejar hasil instan, kisah Halya adalah potret tentang kesabaran merawat proses. Di balik medali perak yang melingkar di lehernya, ada lelah yang dibayar tuntas, doa orang tua, serta ketulusan para guru pembimbing di LPTQ Jawa Tengah.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:


