Banner v.2

Tradisi Lempar Batu ‘Dempa Dempo’ Masih Hidup di Banyumas

Tradisi Lempar Batu ‘Dempa Dempo’ Masih Hidup di Banyumas

Sekelompok Anak Kecil sedang melakukan tradisi dempa-dempo di pandu dengan sesepuh adat, Minggu (14/9).-PUISTIA PASHA/RADARMAS-

BANYUMAS, RADARBANYUMAS.CO.ID – Tradisi mitoni atau tujuh bulanan dengan prosesi lengkap masih bisa ditemui di Banyumas. Salah satunya digelar di rumah warga Purwokerto Barat, Minggu (14/9), yang menghadirkan rangkaian adat dari awal hingga akhir, termasuk dempa dempo, tradisi melempar batu ke dinding rumah yang kini kian jarang terlihat.

Sejak pagi suasana rumah sudah ramai. Warga berdatangan, anak-anak berlarian, dan sesepuh adat bersiap memimpin jalannya acara. Rangkaian dimulai dengan sungkeman, pasangan suami-istri memohon restu kepada orang tua, lalu dilanjutkan siraman kembang tujuh rupa untuk membersihkan lahir batin. Janur kemudian diputuskan sebagai simbol harapan agar persalinan kelak berjalan lancar.

Prosesi berlanjut dengan brojolan kelapa gading. Kelapa yang dibungkus sarung dijatuhkan sebagai doa agar bayi lahir mudah dan sehat. Di tengah doa dan tawa warga, tibalah saat yang paling dinanti, dempa dempo.

Sesepuh adat mengumpulkan anak-anak sekitar, meminta mereka mengambil batu dari kali atau sungai di dekat rumah, lalu melemparkannya ke dinding rumah ibu hamil. Dentuman batu terdengar bertubi-tubi, memicu riuh tawa. Ritual ini dipercaya membuat bayi kelak tumbuh sehat, peka terhadap lingkungan, dan tidak “tuli” secara batin.

BACA JUGA:Dari Panican Sampah Jadi Harapan

Setelah itu dilakukan ngelethoki. Seorang anak yang dianggap lucu atau cerdas dipilih, lalu wajahnya diberi bedak dingin. Maknanya, bayi diharapkan mewarisi sifat baik dari anak tersebut.

Suasana semakin meriah saat sesepuh menaburkan uang logam dan beberapa belut kecil ke halaman. Anak-anak berebut dengan riang, bahkan ada yang tercebur selokan. Prosesi ini melambangkan kelancaran rezeki dan ketangguhan hidup.

Sebagai penutup, warga bersama-sama menikmati rujak gobet, nasi urap, dan pala pendem. Sayuran hijau di nasi urap melambangkan kesuburan, sementara pala pendem menjadi doa agar anak membumi dan berakhlak baik.

Sesepuh adat Tisem menegaskan, tradisi ini bukan sekadar acara seremonial. “Iki warisan leluhur. nek ora dilakoni, bisa ilang. Bocah-bocah dadi ngerti budayane dhewek,” ujarnya (14/9).

BACA JUGA:Turnamen voli lansia Peringati Hari Olahraga Nasional di Banjarnegara

Tradisi mitoni dengan rangkaian selengkap ini kini semakin jarang digelar, sehingga kehadirannya disambut antusias warga sekitar. “Seru sekali lihat anak-anak rebutan uang dan belut, rasane kaya jaman biyen,” kata Siti (39), tetangga yang hadir.

Masyarakat berharap prosesi dempa dempo dan tradisi mitoni terus dilestarikan agar doa bersama dan nilai gotong royong tetap hidup di tengah masyarakat.(sha)

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: