Turnamen voli lansia Peringati Hari Olahraga Nasional di Banjarnegara
Voli lansia di Hari Olahraga Nasional, Banjarnegara, Selasa, 9 September 2025-Pujud Andriastanto/Radar Banyumas-
Semangat tak pernah pensiun
USIA boleh menua, tapi semangat tak pernah pensiun. Itulah yang tampak di GOR Surya Yudha, Banjarnegara, ketika puluhan pemain voli berusia di atas 50 tahun turun gelanggang dalam turnamen spesial memperingati Hari Olahraga Nasional.
PUJUD ANDRIASTANTO, Banjarnegara
Deru tepuk tangan dan sorak sorai menggema di GOR Surya Yudha, Banjarnegara. Bukan pertandingan atlet muda, melainkan laga istimewa para legenda voli yang sebagian besar rambutnya sudah memutih. Di tengah peringatan Hari Olahraga Nasional, mereka menunjukkan satu pesan kuat, semangat olahraga tak pernah pensiun.
Sebanyak 16 tim berlaga dalam turnamen voli khusus lansia, dengan syarat usia minimal 50 tahun. Ada yang sudah berusia 60, 70, bahkan 80 tahun. Meski tubuh tak lagi sekuat dulu, pergerakan mereka di lapangan tetap penuh energi. Setiap smash, blok, dan servis mengundang decak kagum penonton yang memenuhi tribun.
Tak sedikit yang datang membawa cucu untuk ikut menyaksikan. Suasana makin haru ketika penonton sadar, sebagian pemain pernah menjadi bintang voli nasional, bahkan ada yang dulu bersinar di kancah Proliga. Kini, mereka kembali menyapa publik Banjarnegara dengan semangat persaudaraan.
BACA JUGA:Ikonik, Miniatur Ka'bah di Masjid Jami' Istiqomah Desa Sibalung
“Rasanya luar biasa bisa main lagi dengan teman-teman lama. Saya memang hobi main voli dari tahun 1974 dan sudah punya cucu enam. Ini momentum berharga, membangkitkan kenangan silahturahmi sekaligus menjaga kesehatan,” ujar Muhammad Khosim, peserta asal Jakarta, sambil tersenyum lepas usai laga persahabatan.
Turnamen ini awalnya hanya ditujukan untuk peserta dari Jawa Tengah. Namun, semangatnya menular hingga meluas ke Jawa Barat dan Jakarta.
Pertemuan lintas daerah itu membuat suasana semakin meriah, seolah menegaskan bahwa olahraga mampu menembus sekat wilayah, bahkan sekat usia.
Lebih dari sekadar kompetisi, ajang ini menjadi ruang untuk silaturahmi. Panitia memang merancang turnamen bukan hanya sebagai lomba mencari juara, melainkan juga ajang nostalgia dan kebersamaan.
BACA JUGA:Bagikan Sepatu dan Tas untuk Siswa atau Santri Tak Mampu Hingga ke Jogjakarta
“Ajang ini bukan sekadar lomba, tapi ruang silaturahmi. Kami ingin membuktikan bahwa olahraga bisa menyatukan, tanpa batas usia,” tutur Didit Heri Kuncoro, panitia Voli Legend.
Tidak hanya pemain dan panitia, penonton pun ikut terhanyut dalam euforia. Sutrisno (55), warga Banjarnegara yang hadir bersama keluarganya, mengaku bangga bisa menyaksikan kembali aksi para legenda.
“Melihat mereka main, rasanya nostalgia. Saya jadi ingat masa muda waktu voli masih sangat populer di kampung. Mereka memberi contoh bahwa olahraga itu tidak kenal umur,” katanya.
Di setiap jeda pertandingan, tampak para pemain saling tertawa, berpelukan, dan bernostalgia tentang masa lalu mereka di lapangan. Ada yang mengenang pertandingan puluhan tahun silam, ada pula yang sekadar berbagi cerita ringan tentang kehidupan setelah pensiun dari dunia olahraga profesional.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
