Banner v.2

Ramadan dan Manajemen Waktu: Produktif yang Bernilai Ibadah

Ramadan dan Manajemen Waktu: Produktif yang Bernilai Ibadah

Dr. Fatmah Bagis--

Oleh: Dr. Fatmah Bagis

“Jika ingin lebih produktif, kuasailah setiap menit waktumu.” Ungkapan Crystal Paine ini mengingatkan bahwa produktivitas bukan sekadar bekerja lebih keras, melainkan tentang mengelola waktu dengan bijak. Brian Tracy bahkan menegaskan bahwa sumber daya terbesar manusia bukanlah uang atau jabatan, melainkan waktu. Mereka yang berhasil bukanlah yang paling sibuk, tetapi yang paling mampu memanfaatkan setiap menit secara efektif.

Manajemen modern mengartikan waktu adalah aset strategis, terbatas, tidak dapat disimpan, tidak bisa diulang, dan tidak dapat diperpanjang. Karena itu, produktivitas sejati bukan soal banyaknya aktivitas, tetapi tentang kemampuan memprioritaskan hal-hal yang penting, bermakna, dan berdampak.

Islam sejak awal telah menempatkan waktu pada posisi yang sangat mulia. Allah SWT bahkan bersumpah demi waktu:

“Demi masa. Sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan…” (QS. Al-‘Ashr: 1–3)

Sumpah ini menunjukkan bahwa kerugian terbesar manusia bukanlah kekurangan materi, melainkan habisnya waktu tanpa iman dan amal saleh.

Rasulullah SAW juga bersabda:

“Ada dua nikmat yang banyak manusia tertipu di dalamnya: kesehatan dan waktu luang.” (HR. Bukhari).

Hadis ini sangat relevan di era modern. Banyak orang merasa sibuk, namun tidak produktif. Banyak yang memiliki waktu luang, tetapi tidak menggunakannya untuk hal yang bernilai.

Ibnul Qayyim rahimahullah menegaskan, “Waktu seseorang adalah modal utamanya dalam hidup. Jika ia menyia-nyiakannya, maka sesungguhnya ia telah kehilangan modalnya tanpa mendapatkan keuntungan apa pun.” Waktu adalah kapital kehidupan. Tanpa pengelolaan yang baik, ia habis tanpa makna.˙

Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin, khususnya pada bagian Rub‘ al-Muhlikat dalam pembahasan muhasabah an-nafs (evaluasi diri), juga memberikan perhatian besar terhadap disiplin diri dan pengelolaan waktu. Beliau menjelaskan bahwa manusia sering kali lalai bukan karena kekurangan kesempatan, melainkan karena mengikuti hawa nafsu dan kebiasaan menunda. Al-Ghazali mendorong agar setiap hari ditata dengan tertib, setiap aktivitas memiliki tujuan yang jelas, dan setiap detik dijaga dari kesia-siaan. Bagi beliau, orang yang cerdas adalah yang menghitung dirinya sebelum dihisab dan menata waktunya sebelum waktunya habis.

Prinsip ini sangat sejalan dengan konsep self-management dalam manajemen modern. Produktivitas bukan hanya tentang teknik, tetapi tentang pengendalian diri. Ramadan adalah momentum terbaik untuk melakukan upgrade dalam manajemen waktu. Selama sebelas bulan, kita sering merasa waktu tidak cukup rapat yang padat, target pekerjaan, distraksi digital, dan berbagai tanggung jawab. Namun Ramadan menghadirkan ritme hidup yang lebih terstruktur. Ada waktu sahur, berbuka, tarawih, tadarus, dan ibadah lainnya. Secara tidak langsung, Ramadan melatih disiplin, pengaturan prioritas, dan pengendalian diri.

Produktivitas di bulan Ramadan tidak boleh kendur, tetapi juga tidak boleh kehilangan ruh. Pekerjaan tetap harus profesional, target tetap dicapai, namun hati tetap terhubung kepada Allah. Waktu luang tidak dihabiskan untuk kelalaian, melainkan diisi dengan aktivitas bernilai ibadah.

Spiritual well-being memberikan makna pengelolaan waktu yang baik akan menciptakan ketenangan batin, sehingga ketika seseorang mampu menyelaraskan tugas dunia dan ibadah, ia tidak merasa terpecah antara karier dan spiritualitas. Ia justru menemukan harmoni: bekerja menjadi bagian dari ibadah, dan ibadah memperkuat kualitas kerja. Semua aktivitas dapat bernilai ibadah bila diniatkan karena Allah. Mengajar dengan sungguh-sungguh, melayani dengan ikhlas, memimpin dengan adil, bahkan mengatur jadwal dengan disiplin semuanya dapat menjadi amal saleh bila dilandasi niat yang benar. 

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: