Paceklik, Nelayan Tegalrejo Pilih Tak Melaut
Kapal milik nelayan Tegalretno yang yang tidak berangkat melaut karena musim paceklik.--
KEBUMEN- Datangnya musim kemarau, membuat para nelayan kesulitan mencari hasil tangkapan. Bahkan, tak jarang nelayan mengalami kerugian karena pergi melaut dan tidak mendapatkan hasil.
Ketua Paguyuban Nelayan "Mina Barokah" Desa Tegalretno, Kecamatan Petanahan, Ahmad Daezin menyampaikan, sebagian anggotanya memilih libur tidak melaut. "Musim kemarau seperti ini musim paceklik. Kalau pun ada yang berangkat hasilnya tidak sebanding dengan hasil tangkapan," ujarnya ditemui Jumat, (18/7).
Menurut Ahmad Daezin, selama ini perkampungan nelayan di Kebumen identik di daerah Kebumen barat seperti Kecamatan Ayah yang jumlah nelayan mencapai ribuan. Untuk kawasan timur seperti Petanahan, Buluspesantren Ambal dan Mirit belum terlalu banyak.
Khusus di Kecamatan Petanahan, ia menyampaikan, perkampungan nelayan tumbuh sejak tahun 2004. Daezin sendiri merupakan perintis. "Berawal dari perahu bantuan pemerintah 4 perahu. Bertambah tahun bertambah banyak, hingga ada beberapa nelayan yang membeli perahu sendiri," ujarnya.
Pendapatan sebagai nelayan yang menggiurkan menjadi alasan beberapa warga Tegalretno memilih menjadi nelayan. "Di tahun 2020 an para nelayan bisa dapat puluhan juta bahkan sempat menembus 1 miliar," katanya.
Namun kondisi alam tak selamanya bersahabat. Belum lagi, bencana gempa Pangandaran tahun 2006 membuat perahu banyak yang rusak. "Dari jumlah perahu bantuan pemerintah yang 20 kini sudah berkurang," ujarnya.
Kini, para nelayan di Tegalretno berharap pemerintah memberikan perhatian. "Khusus untuk nelayan Tegalretno kami butuh ruang penyimpanan mesin juga TPI," katanya. (cah)
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:

