Banner v.2

Pundak Baja dari Cindaga

Pundak Baja dari Cindaga

PUNDAK BAJA. Rasmanto (kaos orange) saat memikul tumpukan karung beras.-JUNI R/RADARMAS-

PURWOKERTO, RADARBANYUMAS.CO.ID - Tubuh Rasmanto (70) kian ringkih. Badannya tak lagi tegap, sedikit membungkuk. Langkah kakinya tidak selincah dahulu. Staminanya tergerus usia. Pipi warga Desa Cindaga, Kecamatan Kebasen, Kabupaten Banyumas, itu keriput. Giginya juga banyak yang tanggal.  

Melihat kondisi fisiknya, banyak orang mengira Rasmanto hanyalah warga lanjut usia (lansia) biasa. Ungkapan biasa mengacu pada pria menua yang menghabiskan waktunya berleha-leha. Atau sekadar bersantai di kursi. 

Padahal, Rasmanto adalah seorang 'veteran'.  Ia menjadi kuli panggul di Kompleks Pergudangan Cindaga, Kantor Cabang Bulog Banyumas, Jawa Tengah.

Pria kelahiran 1956 ini masih mampu memanggul lima tumpukan karung beras dengan bobot total 50 kg dalam sekali angkut menempuh jarak rata-rata 50 meter. Saat ini ia bekerja sejak 08.00-17.00. 


SEMANGAT MEMBARA. Meski berusia senja, Rasmanto tetap semangat bekerja.-JUNI R/RADARMAS-

Dalam durasi itu Rasmanto mengangkut rata-rata 8-10 ton. Keruan saja ia juga mengaso pada pukul 12:00-13:00. “Sekarang pundak sudah sakit, betis mrengkel (kaku, red),” ujar kuli panggul di gudang Cindaga sejak 1970 itu. 

Sumber  kehidupan 

Rasmanto mengatakan, tubuhnya mulai menunjukkan batasnya. Pundak mudah lecet, telapak kaki yang berdenyut, kadang kunang-kunang menghampiri indra penglihatan. “Kalau sudah kunang-kunang, saya istirahat dulu,” ujarnya sembari senyum semringah. 

Ia harus bekerja. Harap mafhum, peluhnya yang membuat dapur tetap mengebul. Bukan hanya itu, upah sebagai pengangkut juga untuk membiayai pendidikan keempat anaknya. Mereka menamatkan pendidikan jenjang menengah di Banyumas. Praktis sepanjang hidupnya, Rasmanto sangat bergantung pada gudang Bulog Cindaga. 


PENOPANG LUMBUNG. Otot-otot penopang lumbung pangan.-JUNI R/RADARMAS-

 “Dulu waktu gudang dibangun, saya langsung daftar (menjadi kuli panggul),” kata ayah empat anak itu mengenang. Ketika itu pundaknya kokoh, mampu memanggul hingga 12 karung beras setara 120 kg sekali angkut. Ia mampu mengangkut hingga 10.000-13.000 kg beras per hari.  

Rasmanto bercerita, upahnya dulu pada 1970 Rp1.500 sehari.  Ingatannya masih tajam, menyimpan memori upah yang diterimanya.  Upah naik menjadi Rp4.000 per hari pada 1980, Rp6.000 (1990), dan Rp8.000 (2000). 

Selama 56 tahun ia bekerja sebagai kuli panggul di Gudang Bulog Cindaga.  Di kalangan teman-teman seprofesinya jabatannya cukup mentereng:  Panglima kuli panggul.  Kini Rasmanto memperoleh upah harian Rp100.000-Rp150.000. 

Bahu pria kelahiran 1956 itu menjadi prasasti yang mencatat sejarah dari setiap ton beban, yang ia topang selama lebih dari setengah abad. Rasmanto menolak kalah karena usia. Meski renta, semangat kakek tujuh cucu itu masih membara. Sejatinya Rasmanto ingin menghabiskan masa tuanya dengan bersantai, momong cucu, atau berkebun kecil-kecilan. “Inginnya mengaso, tapi keadaan memaksa,” kata Rasmanto. 

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: