Pundak Baja dari Cindaga
PUNDAK BAJA. Rasmanto (kaos orange) saat memikul tumpukan karung beras.-JUNI R/RADARMAS-
Apalagi kini Bulog dalam penyediaan pangan, ada beras yang kemasaanya bulky 100 kg. "Masih sangat diperlukan tenaga manusia, yang bisa menata lebih rapi dan presisi," kata Setyo Aji.
Ketua Laboratorium Sosiologi Universitas Jenderal Soedirman Dr. Tri Wuryaningsih, M.Si. mengatakan, kuli panggul Bulog sebagai infrastruktur hidup. Tanpa otot mereka, rantai pasok pangan mandek. “Perannya sangat vital, tetapi tidak terlihat,” ujar doktor Sosiologi alumnus Universitas Gadjah Mada itu.
Wuryaningsih menjelaskan, masyarakat membutuhkan uang untuk bertahan hidup. Bulog memerlukan tenaga, guna memastikan rantai pasok pangan aman.
“Dua hal ini tidak bisa dipisahkan," paparnya.
Menurut Wuryaningsih Bulog sangat memungkinkan untuk menerapkan mekanisasi dan penggunaan mesin-mesin canggih.
“Dari sisi sosiologis tidak bisa menutup mata, dari kondisi realitas sosial masyarakat kita," ujar peneliti Sosiologi itu.
Penerapan mekanisasi menjadi buah simalakama. "Kalau pakai mesin bagaimana bisa menghidupi mereka," ujar Wuryaningsih.
Menurut Wuryaningsih Bulog agar memberikan jaminan kesejahteraan dan menaikkan upah secara berkala.
Masa depan kedaulatan pangan, tidak melulu soal mekanisasi atau kecanggihan mesin tertentu. Ada tenaga-tenaga manusia, yang berjuang melawan pitam dan lelah untuk menjaga lumbung pangan. Di setiap nasi yang tersaji di meja-meja makan ada otot-otot kuli panggul yang tetap berjuang pada usia senja demi menjaga masa depan. Baik masa depan pangan, juga masa depan anak cucunya. (res)
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
