Pundak Baja dari Cindaga
PUNDAK BAJA. Rasmanto (kaos orange) saat memikul tumpukan karung beras.-JUNI R/RADARMAS-
Kiat sehat
Gudang Cindaga juga menjadi sumber penghidupan bagi Iwan Mardiono. Pria 62 tahun itu menjadi kuli panggul di kompleks Bulog Cindaga sejak 1998.

SEKOLAHKAN ANAK. Iwan Mardiono (kaos putih) berhasil menyekolahkan anak bungsunya hingga kuliah, dari hasil menjadi kuli panggul.-JUNI R/RADARMAS-
Semula warga Desa Cindaga itu bekerja sebagai kuli bangunan di Jakarta. Setelah 15 tahun bekerja di Jakarta, Iwan kembali ke Cidaga.
Menurut Iwan pada awal-awal bekerja sebagai kuli panggul, tidaklah mudah. Saat itu karung-karung beras berukuran jumbo. Bobot sebuah karung beras 105 kg dan gabah 70 kg. Ia mengaku pundaknya hampir rontok. Ia kerap merasakan pegal-pegal di sekujur tubuh. Hal itu ia rasakan hampir sebulan pertama bekerja. “Baru tahun 2003 ukurannya menjadi 50 kg,” ujar Iwan.
Seiring berjalannya waktu, ia menjadi tahu kiat-kiat bekerja menjadi kuli panggul. Sekadar contoh, baju harus kering. Baju basah menyebabkan pundak lecet, karena gesekkan karung beras.
“Saya selalu bawa satu kaos buat gantian,” kata Iwan.
Selain itu, ia juga memakai ikat pinggang khusus untuk melindungi perutnya. “Kalau angkat barang, perut menekan. Ikat pinggang untuk melindungi,” ujarnya.
Bekerja di gudang dengan berton-ton beban dan kondisi yang pengap menjadikan tubuh rawan terkena dehidrasi. Iwan lazimnya minum air putih minimal tiga liter. Ia juga rajin mengonsumsi air rebusan rimpang kunyit (Curcuma domestica) dan temulawak (Curcuma xanthorriza). Minuman itu, “Khasiatnya bikin badan enak,” kata Iwan yang menjadi mandor pada 2009.
Iwan mengatakan, jumlah kuli panggul di gudang Cindaga 47 orang. Usia mereka rata-rata 50-60 tahun. Tugas Iwan antara lain memastikan tenaga kuli panggul selalu tersedia. Ia sadar betul, pekerjaanya rawan kecelakaan. Apalagi rata-rata usia kuli panggul relatif tua. Bulog Cindaga berupaya meningkatkan kesejahteraan mereka antara lain dengan mendorong keikutsertaan BPJS Ketenagakerjaan.
“Kami siap dan sepakat menyisihkan uang untuk ikut BPJS Ketenagakerjaan,” kata Iwan. Namun, untuk keikutsertaan BPJS Ketenagakerjaan dikembalikan kepada masing-masing individu. Menurut Iwan terdapat kas Rp2.000 per hari untuk menjenguk teman yang sakit dan tabungan hari raya.
Iwan yang berpengalaman menjadi kuli panggul, memanfaatkan uang kas itu untuk membeli kambing. Upah kuli panggul dan ternak menjadi penopang keluarganya dengan empat anaknya.
Bahkan, anak bungsunya mengenyam pendidikan di perguruan tinggi dari hasil keringatnya. “Anak minat ingin kuliah, saya bisa bayar sekolahnya,” kata Iwan. Menurut Iwan pendidikan sangat penting. “Orang yang tidak sekolah itu hidupnya rekasa (sengsara, red),” katanya sembari mencontohkan dirinya.
Simbiosis mutualisme
Pemimpin Perum Bulog Cabang Banyumas Prawoko Setyo Aji mengatakan, wilayah Cabang Bulog Banyumas total memiliki delapan kompleks pergudangan yang tersebar di berbagai wilayah. Gudang di Kabupaten Cilacap terdapat di Gumilir, Lomanis, Klapagada, Mulyadadi Majenang. Area lain di Kabupaten Banyumas (Klahang, Sokaraja, dan Cindaga), Kabupaten Purbalingga (Karangsentul, Kalikabong), dan Kabupaten Banjarnegara (Purwonegoro).
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
