BACA JUGA:5 Kisah Mistis di Balik Keindahan Gunung Slamet, Bikin Merinding!
BACA JUGA:Situ Tirta Marta, Jernihnya Mata Air Gunung Slamet di Purbalingga
Kemudian pengukuran deformasi menunjukkan terjadinya peningkatan tekanan pada tubuh Gunung Slamet. Adanya inflasi pada Stasiuh Tiltmeter Bambangan (Kabupaten Pemalang) yang merupakan stasiun Tiltmeter terdekat dengan puncak, menunjukkan tekanan telah bergerak menuju puncak Gunung Slamet atau berada pada kedalaman yang lebih dangkal dari sebelumnya.
"Hal itu menunjukkan terjadinya peningkatan tekanan di bawah tubuh Gunung Slamet yang dapat memicu gempa-gempa dangkal maupun terjadinya erupsi freatik," terangnya.
Menurutnya, potensi ancaman bahaya Gunung Slamet saat ini adalah erupsi freatik maupun magmatik yang dapat menghasilkan lontaran material pijar yang melanda daerah di sekitar puncak dalam radius 2 kilometer.
Hujan abu dapat terjadi di sekitar kawah maupun melanda daerah yang ditentukan oleh arah dan kecepatan angin.
BACA JUGA:Fakta Menarik Yang Wajib Diketahui Sebelum Mendaki Gunung Slamet, Jawa Tengah.
BACA JUGA:Upacara di Puncak, Ratusan Pendaki Gunung Slamet Turun Sore Ini
Sehingga PVMBG merekomendasikan kepada masyarakat dan pengunjung atau wisatawan untuk tidak beraktivitas dalam radius 2 kilometer dari kawah puncak Gunung Slamet. (win)