Banner v.2

Program Hilirisasi Kembali Digelar Bukit Asam, Alokasikan Hingga 563 Juta Ton Batu Bara

Program Hilirisasi Kembali Digelar Bukit Asam, Alokasikan Hingga 563 Juta Ton Batu Bara

Program Hilirisasi Kembali Digelar Bukit Asam, Alokasikan Hingga 563 Juta Ton Batu Bara--

RADARBANYUMAS.CO.ID - Program Hilirisasi kembali menjadi perbincangan hangat bagi segenap ekonom yang menginginkan peningkatan ekonomi Indonesia.

Dengan kekayaan Indonesia yang melimpah, program hilirisasi jadi Solusi praktis yang efektif untuk kembali memberikan usaha penuh memajukan bangsa dan tanah air.

Degan kekayaan alam Indonesia mampu memberikan peningkatan nilai pada bahan baku menjadi bahan jadi.

Belum lagi dengan kualitas produk yang bisa terus diasah dan dievaluasi dapat memberikan potensi penuh pada sumber daya manusia Indonesia untuk kembali mengasah kreativitas.

BACA JUGA:Kenalan Sama Hilirisasi Dari Apa, Mengapa, dan Dampaknya Bagi Indonesia!

BACA JUGA:Wapres Gibran Dorong Hilirisasi Kemenyan Tak Hanya Sekedar Ekspor Bahan Mentah

Belum lagi dengan semakin meluasnya produk bangsa memberikan profit yang menguntungkan untuk Perusahaan dan negara serta dapat mensejahterakan masyarakat Indonesia.

Aksi Nyata Program Hilirisasi di Indonesia

Kali ini pembahasan artikel akan memfokuskan kepada PT Bukit Asam TBK yang akan memberikan program hilirisasi dengan alokasi 563 juta ton produksi batu bara.

Jumlah ini sejalan dengan cakupan produksi di Dimetil Ether, Synthetic Natural Gas (SNG), Methanol, dan Ammonia yang memberikan kualitas produksi semakin unggul.

Pernyataan resmi dari Direktur Utama Bukit Asam Arsal Ismail bahwa “ Ini merupakan upaya strategis untuk menciptakan nilai tambah nasional sekaligus menjaga keberlanjutan dan kelayakan usaha jangka panjang Perusahaan,”

BACA JUGA:Dorong Indonesia Hilirisasi Kemenyan, Wapres Gibran Sebut Sama Berharganya dengan Nikel

BACA JUGA:Wapres Gibran Menimbang Potensi Hilirisasi Kemenyan Sebagai Komoditas Berharga Seperti Nikel

Pernyataan tersebut resmi diucapkan saat rapat kerja bersama Komisi XII DPR hari Rabu 16 Juli 2025 sebagai ajang harapan peningkatan nilai tambah hasil batu bara di Indonesia.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: