Banner v.2

Melihat Jejak Komunitas Dharma Bhakti Patanjala di Purbalingga

Melihat Jejak Komunitas Dharma Bhakti Patanjala di Purbalingga

Kegiatan konservasi mata air berbasis budaya yang digelar Komunitas Dharma Bhakti Patanjala bersama PPA Gasda, Pemerintah Desa Talagening, dan Komunitas Talasena di Kompleks Lembah Watu Sanggar, Kecamatan Bobotsari, Purbalingga.-Patanjala untuk Radarmas-

Menyelamatkan Mata Air Lewat Budaya

Di Kompleks Lembah Watu Sanggar, Desa Talagening, Kecamatan Bobotsari, udara Minggu pagi (11/1/2026) terasa berbeda. Bukan hanya karena pepohonan yang menaungi kawasan itu, tetapi karena sebuah ikhtiar sunyi yang pelan-pelan dijalankan: merawat mata air dengan cara yang berpijak pada budaya.

ADITYA WISNU WARDANA, Purbalingga

Di sanalah Komunitas Dharma Bhakti Patanjala kembali menggelar Konservasi Mata Air Berbasis Budaya, bersama PPA Gasda, Pemerintah Desa Talagening, dan Komunitas Talasena. Kegiatan ini bukan yang pertama. Dalam beberapa bulan terakhir, Patanjala konsisten bergerak, baik secara mandiri maupun berkolaborasi dengan Polres Purbalingga dan Pemerintah Kabupaten Purbalingga.

Bagi Patanjala, menjaga lingkungan bukan sekadar menanam pohon atau membersihkan sumber air. Lebih dari itu, ada upaya menautkan kembali manusia dengan nilai-nilai leluhur yang selama ini hidup berdampingan dengan alam.

Koordinator Komunitas Dharma Bhakti Patanjala, Teguh Pratomo, menegaskan bahwa pelestarian lingkungan tidak selalu harus mahal atau bergantung pada teknologi tinggi. Tradisi, menurutnya, justru menyimpan kekuatan besar.

BACA JUGA:Batu Berundak Igir Karem Terkuak, Antara Jejak Sejarah dan Kisah yang Terserak

“Upaya Patanjala berfokus pada perlindungan mata air, penghijauan zona tangkapan hujan, dan penguatan aturan adat yang menjaga kawasan sumber air dari penebangan liar dan alih fungsi lahan,” katanya.

Pendekatan tersebut, lanjut Teguh, bukan hanya berdampak pada ketersediaan air bersih bagi masyarakat sekitar. Lebih jauh, kawasan yang terjaga mampu menyerap karbon dari atmosfer sekaligus mencegah pelepasan karbon yang tersimpan di tanah dan vegetasi.

Kegiatan konservasi yang dilakukan Patanjala selalu dibingkai dalam nilai budaya. Seni, ritual, hingga edukasi masyarakat menjadi bagian yang tak terpisahkan. Tujuannya sederhana namun mendalam: agar masyarakat merasa memiliki, bukan sekadar menjadi penonton.

“Kami percaya bahwa menjaga alam adalah bagian dari menjaga warisan leluhur. Dengan cara ini, masyarakat tidak hanya menanam pohon, tapi juga menanam nilai,” ujarnya.

BACA JUGA:Pembuktian Felicia Amadea Raih Prestasi di Ajang Trail Run Nasional

Apa yang dilakukan Patanjala sejatinya sejalan dengan perhatian dunia internasional terhadap pendekatan berbasis alam. Lembaga seperti IUCN (International Union for Conservation of Nature) dan laporan IPCC (Intergovernmental Panel on Climate Change) menyebut nature-based solutions sebagai strategi efektif dalam mitigasi perubahan iklim, karena mampu menekan emisi karbon sekaligus memberi manfaat sosial dan ekonomi.

Di Purbalingga, Patanjala berupaya menghubungkan titik-titik ekologi, khususnya di kawasan Pegunungan Serayu Utara, melalui konservasi mata air berbasis budaya. Selain penanaman pohon dan revitalisasi sumber air, komunitas ini juga merancang langkah lanjutan berupa pembentukan bank pohon hingga kegiatan pengobatan gratis bagi masyarakat.

Teguh berharap, gerakan kecil yang mereka lakukan bisa menginspirasi daerah lain untuk memadukan budaya dan kepedulian ekologis.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: