Kekeringan Meluas, Status Kekeringan di Banjarnegara dari Siaga Menjadi Tanggap Darurat

Kekeringan Meluas, Status Kekeringan di Banjarnegara dari Siaga Menjadi Tanggap Darurat

Warga Kaliajir, Banjarnegara antre bantuan droping air bersih dampak kekeringan diwilayahnya.-PUJUD/RADARMAS-

BANJARNEGARA, RADAR BANYUMAS.DISWAY.ID - Seiring terjadinya fenomena El Nino, bencana kekeringan sudah terjadi di beberapa wilayah. Di BANJARNEGARA kini naik level menjadi tanggap darurat kekeringan. 

Sebelumnya, Banjarnegara telah ditetapkan siaga darurat kekeringan. Namun, kelangkaan air kini makin meluas sehingga pemerintah menaikkan status menjadi tanggap darurat kekeringan.

Saat ini tercatat ada 26.718 jiwa terdampak krisis air bersih. Kondisi ini membuat Pemerintah Kabupaten Banjarnegara segera meningkatkan status menjadi tanggap darurat bencana kekeringan.

Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Banjarnegara, saat ini ada 15 desa dan 5 kelurahan dari 9 kecamatan di Banjarnegara mengalami krisis air bersih. Dari jumlah tersebut ada 7628 KK atau 26.718 jiwa.

BACA JUGA:Hari Libur, BPBD Banjarnegara Tetap Distribusikan Air Bersih Dampak Kekeringan Meluas

BACA JUGA:Kekeringan Meluas, Polres Banjarnegara Bantu Buat Sumur Bor di Susukan

"Dari hasil rapat koordinasi terkait kekeringan, salah satunya menaikkan status dari siaga darurat menjadi tanggap darurat. Karena saat ini dampak kekeringan sudah di 20 lokasi, yakni 15 desa dan 5 kelurahan dari 9 kecamatan di Banjarnegara," kata Pj Bupati Banjarnegara Tri Harso Widirahmanto, Senin (11/9/2023).

Ia mengatakan, penetapan naiknya status dari siaga darurat bencana menjadi tanggap darurat bencana akan dilakukan pekan depan. Status tanggap darurat bencana kekeringan ini akan berlaku 60 hari ke depan.

"Anggaran di BPBD semakin menipis. Untuk penanganan kekeringan kalau tidak ada peningkatan status ke tanggap darurat BPBD tidak bisa membiayai dengan BTT (biaya tak terduga)," jelasnya.

Tri Harso mengatakan, selain melakukan droping air, pihaknya melakukan penanganan kekeringan jangka panjang. Salah satunya dengan membuat sumur bor.

"Kalau solusi jangka pendek dropping. Tetapi kami akan membuat sumur bor di lokasi rawan kekeringan, tentunya dengan menggunakan kajian dari geospasial," pungkasnya.

Kekeringan sangat dirasakan salah satunya di Desa Kaliajir.  Salah seorang warga., Handiem mengatakan, sudah tiga bulan kesulitan air untuk keperluan sehari hari.

"Kalau pas tidak ada droping air ya beli. kalau mengambil di sungai pun sekarang air juga sudah banyak yang kering," kata dia.

Biasanya ia membeli air seharga Rp 150 ribu untuk 1 tandon air. Dalam sebulan, Handiem biasanya membutuhkan 3 tandon air untuk kebutuhan sehari-hari.(jud)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: