Pesan Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir dalam Memaknai Tahun Baru bagi Umat Muslim

Pesan Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir dalam Memaknai Tahun Baru bagi Umat Muslim

Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Haedar Nashir -Foto dok Net Muhammadiyah -

BANTUL, RADARBANYUMAS.CO.ID  – Jelang tahun baru 2023, umat Islam di seluruh dunia akan menyambut tahun baru masehi. Hal ini karena kalender masehi sudah menjadi kalender yang dipakai pada umumnya, termasuk di Indonesia.    

Menjelang tahun baru ini, Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Haedar Nashir memberi wejangan dalam acara Refleksi Akhir Tahun Masjid Husnul Khatimah Kampung Rukeman-Peleman Tamantirto Kasihan, Bantul, Rabu 28 Desember 2022. 

Haedar menyinggung soal pergantian tahun masehi yang sebentar lagi akan datang.

BACA JUGA:Piala AFF 2022, Indonesia v Thailand, Update Head to Head Sekaligus Laga Musuh Bebuyutan

Menurut Haedar, masyarakat sering merayakan dua pergantian tahun. 

Pertama di bulan Hijriyah ketika 1 Muharram tiba. 

Kedua adalah di akhir tahun Miladiyah seperti akhir desember ini.

“Dua-duanya baik tidak ada yang buruk, bahkan dalam kehidupan sehari-hari termasuk di negara Timur Tengah, Arab Saudi, dua kalender selalu dipakai yang sehari-hari termasuk untuk transaksi itu menggunakan tahun Miladiyah tetapi untuk penentuan hari raya Idulfitri dan Iduladha itu menggunakan tahun Hijriyah, jadi tidak perlu mempertentangkan dua waktu ini,” ungkap Haedar. 

BACA JUGA:Fakta Jelang Tahun Baru, Harga Miras Ciu Naik, Ini Temuan Razia yang Dilakukan di Sumpiuh

Yang paling penting, kata Haedar, justru dalam memaknai lepasnya tahun lama dan hadirnya tahun baru.

"Kenapa harus memaknai? orang ‘merayakan’ tidak apa-apa sejauh itu untuk syiar. Tetapi yang menjadi keliru itu kalau merayakan hari datangnya tahun baru dan lepasnya tahun lama secara berlebihan dan hanya lahiriyah semata-mata apalagi yang bersifat mubazir baik waktu, uang, kesempatan dan lainnya," ujar Haedar dikutip dari website resmi Muhammadiyah

“Supaya kita tidak berlebihan dan punya arti syiar boleh, gembira boleh. Masak sih manusia tidak boleh gembira? boleh, kalau yang tidak boleh gembira itu hanya patung dan polisi tidur. Manusia berhak untuk gembira, bahagia, ada suasana lahir dalam hidup itu. Misal, bertemu teman gitu kan senang,” kata Haedar.

“Tetapi bagi kita kaum muslim ada batas-batas dan ada makna-makna yang harus kita pedomani dan kita maknai dalam melepas tahun lama dan lahirnya tahun baru,” lanjutnya.

BACA JUGA:Bakal Seru, Tiket Timnas Indonesia vs Timnas Thailand Sold Out, Ribuan Penonton Hadir di Piala AFF

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: