Enam Desa di Purbalingga Mulai Krisis Air

Enam Desa di Purbalingga Mulai Krisis Air

DROPING AIR : Warga di wilayah Kutasari antre air bersih yang dikirim oleh BPBD Kabupaten Purbalingga. (AMARULLAH NURCAHYO/RADARMAS) Droping 100 Ribu Liter Air Bersih PURBALINGGA - Sekitar dua pekan terakhir, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) melakukan droping air bersih. Sebanyak 23 tangki air sudah didistribusikan ke beberapa wilayah terdampak kekeringan di Kabupaten Purbalingga. Jumlahnya sekitar 100 ribu liter air yang dikirim ke enam desa di tiga kecamatan yang mulai krisis air bersih. Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Purbalingga Rusmo Purnomo mengatakan, beberapa desa yang terdampak kekeringan dan sudah meminta bantuan air bersih antara lain Desa Pagedangan Kecamatan Bojongsari sebanyak dua tangki dan Desa Karangcegak Kecamatan Kutasari sebanyak dua tangki. Kemudian Desa Banjarsari Kecamatan Bobotsari sebanyak empat tangki, Desa Karangmalang Kecamatan Bobotsari sebanyak enam tangki dan Desa Candiwulan Kecamatan Kutasari dua tangki. “Kami juga memenuhi permintaan Desa Talagening Kecamatan Bobotsari lima tangki dan pagi (kemarin, red) ada telepon lagi Desa Karangcegak untuk dikirim air bersih sebanyak dua tangki air. Permintaan air bersih terus datang, bahkan sampai sore ada permintaan delapan tangki untuk beberapa desa," terangnya. Lebih lanjut dikatakan, beberapa desa mulai ada yang meminta bantuan melalui telepon dan surat. Kemungkinan karena mendesak untuk masak dan kebutuhan sehari-hari. “Kami selalu siap melakukan droping air ke desa-desa yang membutuhkan air bersih. Karena ini merupakan salah satu tugas BPBD yakni membantu masyarakat yang membutuhkan, khususnya kemarau ini,” tambahnya. DROPING AIR : Warga di wilayah Kutasari antre air bersih yang dikirim oleh BPBD Kabupaten Purbalingga. (AMARULLAH NURCAHYO/RADARMAS) Rusmo mengimbau, untuk pendistribusian air bersih agar terpusat pada satu titik sehingga memudahkan petugas saat melakukan droping. “Kalau sehari ngirim sampai tiga kali, kan tidak hanya satu desa biasanya sampai dua desa. Harapan saya, pengiriman sudah dipusatkan jadi warga sudah berada di satu titik pengambilan air,” ujar Rusmo. Rusmo meminta kepada pemerintah desa di daerah rawan krisis air bersih untuk segera mendata kebutuhan warganya. Kemudian dikumpulkan dalam satu titik dan menunggu jadwal droping. “Jadi kami lebih efektif, karena warga dalam satu lokasi dan sudah siap wadah atau tempat menampung air,” katanya. Rusmo mengakui, saat pendistribusian air bersih kadang mengalami kendala. Yakni terbatasnya personel sehingga menggandeng PDAM. Namun dia menjamin air yang didistribusikan merupakan air bersih yang baru ambil. “Kalau mintanya mendadak harus mengisi tangki dulu. Kami tidak menyimpan air dalam tangki, namun semua dadakan karena khawatir air sudah tidak layak lagi jika tersimpan lama di tangki,” ujarnya. (amr/sus)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: