Pandai Besi Butuh Regenerasi, Eksistensi Empu Makin Surut
TEMPA: Empu Timan dibantu seorang karyawan menghantam besi yang baru dibakar.
SUMPIUH - Di tengah eksistensi empu atau pande besi. Muncul kekhawatiran soal regenerasi.
"Khawatirnya lama-lama empu bisa punah," ujar Empu Timan, Senin (15/11) saat istirahat siang.
Bukan lantaran pekerjaan sepi yang membuat was-was. Empu tidak pernah kehilangan pasarannya. Saban hari dapat dikatakan selalu ada yang datang.
Empu Timan menceritakan permasalahan lebih pada kesulitan untuk mendapatkan orang yang bisa bertahan dalam membantu usahanya. Kebanyakan pada akhirnya memilih mencari pekerjaan lain.
"Dari yang belum tahu kemudian belajar hingga bisa. Lalu pergi. Bukan membuat usaha pande besi sendiri, tapi kerja lain bidang," imbuh Timan.
Dirinya mengaku tidak bisa berbuat banyak atas keputusan karyawannya yang mengundurkan diri. Kesulitan juga mengupayakan agar bertahan.
Dibutuhkan waktu sedikitnya setahun bagi pemula untuk menguasai teknik pande besi. Bahkan menghantam besi setelah dibakar bara api tidak asal.
Oleh karena itu, Timan berharap bermunculan generasi baru pande besi yang mampu bertahan. Sehingga, eksistensi terus terjaga.
"Dalam kondisi normal seperti sekarang, mengerjakan pesanan juga bisa kewalahan. Apalagi kalau ada yang minta cepat," ujar Timan.
https://radarbanyumas.co.id/5-keris-5-gada-enam-ujung-tombak-dan-satu-tombak-ukiran-naga-ditemukan-di-pantai-menganti-keris-menancap-di-pasir/
Anas, pemesan bendo asal Candirenggo, Kebumen mengaku sudah lama berlangganan ke empu Timan. Meski banyak barang di jual di pasar, tetap memilih pesan langsung ke pande besi.
"Hasilnya sesuai keinginan pesan ke empu. Kualitas lebih terjamin dari pada beli di pasar. Contohnya pernan beli arit di pasar sampai lima kali, tidak bertahan lama, cepat tumpul," tandas Anas. (fij)
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:

