Banner v.2

Eksplor Curug di Banyumas Jadi Obsessi Yessinia Rizky Nur Essa Semifinalis Miss Scuba 2016

Eksplor Curug di Banyumas Jadi Obsessi Yessinia Rizky Nur Essa Semifinalis Miss Scuba 2016

MENYELAMI kedalaman laut, kadang memberikan sensasi tersendiri bagi mereka yang baru pertama kali melakukannya. Diving memang dijadikan wahana wisata, khususnya bagi objek yang berada di sekitar laut lepas. Peralatan lengkap juga harus menjadi salah satu syarat utama. Lalu apa jadinya jika menyelam dilakukan di bawah curug tanpa peralatan scuba seperti pada umumnya? yessinia-rizky-nur-essa-semifinalis-miss-scuba-2016 BAYU INDRA KUSUMA, Purwokerto Adalah Yessinia Rizky Nur Essa (23) . Gadis yang biasa disapa Essa ini, berusaha memperkenalkan free dive (menyelam bebas) ke masyarakat umum, khususnya di wilayah Purwokerto dan sekitarnya. Meski termasuk dalam kategori olahraga, diving nyatanya tidak begitu populer di kalangan masyarakat dataran tinggi seperti di Banyumas. Berangkat dari itu, Essa berusaha memperkenalkan diving, khususnya free dive, dengan objek sejumlah curug yang banyak dimiliki kabupaten yang berada di kaki Gunung Slamet ini. "Sensasi free dive di curug jauh lebih greget, menyenangkan, dan menegangkan ketimbang di laut," ujarnya. Menurut gadis kelahiran Cirebon 16 November 1993 ini, dibandingkan menyelami keindahan laut, menyelam di curug atau air terjun jauh lebih menantang. Sebab bukan hanya soal teknik menyelam saja yang harus ditonjolkan, tetapi kepekaan terhadap alam juga menjadi faktor yang patut dicoba. "Banyak yang harus dipertimbangkan. Harus pintar-pintar mengenali kondisi air dan tekanan airnya, termasuk suhu air dan karakter curug," ungkapnya. Disamping itu, menyelam di dasar curug jauh lebih berkesan. Karena banyak biota yang bisa dipelajari, bahkan belum pernah ditemui di dalam laut. Sensasi dasar curug yang relatif gelap dibandingkan laut, menjadi keseruan tersendiri. "Di Purwokerto banyak potensi curug yang bisa dijadikan wahana diving, khususnya untuk wisata, sehingga memang sangat layak untuk dikembangkan. Salah satunya di Telaga Sunyi," imbuhnya. Anak pertama dari lima bersaudara ini mengaku baru mengenal diving sekitar tahun 2014 lalu. Berawal dari hobinya berenang, dia bertemu dengan komunitas diving 'mirror fighter dive'. Namun anggotanya masih didominasi oleh laki-laki. Dari situ, dia bertekad untuk menggandeng kaum hawa untuk ikut merasakan kesenangan-kesenangan dalam diving. Lalu baru di awal tahun 2016 lalu, Essa mulai menekuni free dive, yaitu diving tanpa menggunakan scuba "Teknik-tekniknya saya belajar secara otodidak melalui internet. Namun untuk praktiknya, saya biasanya ditemani beberapa teman, karena meskipun hanya berlatih, diving harus tetap diawasi karena masuk salah satu olahraga yang ekstrem," jelasnya. Essa akhirnya memberanikan diri untuk ikut dalam ajang Miss Scuba Indonesia 2016 di Jakarta. Di tahun pertamanya mengikuti ajang tersebut, dia mampu menembus babak semifinal 33 besar, setelah berhasil menyisihkan ribuan peserta dari seluruh Indonesia. Even tersebut merupakan even tahunan yang dilakukan oleh Yayasan Laut Indonesia Exibition Indonesia yang berada di Jakarta. Essa bertekad menembus final 15 besar atau mungkin menjadi juara dalam ajang Miss Scuba Indonesia tahun 2017 mendatang. "Sekarang masih terus latihan untuk meningkatkan durasi di dalam air. Sekarang saya baru dapat menyelam selama 1 menit 50 detik di dalam air tanpa alat bantu pernapasan, sehingga perlu ditingkatkan minimal dua menit," ujarnya. Dari pengalamannya diving, lulusan S1 Sosiologi Unsoed 2016 ini mengaku juga sering bertemu dengan orang-orang komunitas pecinta diving dari beberapa daerah di Indonesia seperti Bali dan daerah luar Jawa lainnya. (*)

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: