Banner v.2

Owabong Nguri-uri Tradisi Nyadran

Owabong Nguri-uri Tradisi Nyadran

Bersih Sumber Hingga Arak-arakan Hasil Bumi Tradisi Nyadran yang lazim digelar memasuki bulan ramadan, mulai ditinggalkan. Untuk melestarikannya, Owabong pun mengadakan Bersih Sumber Mata Air Objek Wisata Air Bojongsari. GALUH WIDOERA- Purbalingga Ada yang beda di sekitaran obyek wisata Owabong, kemarin. Puluhan pemuda-pemudi berpakaian beskap lengkap dan kebaya tradisional lengkap dengan sanggul mengambil air dari tujuh mata air yang mengaliri obyek wisata air terbesar di Jateng tersebut. Tak hanya itu, rombongan lain tampak mengangkut hasil bumi menggunakan tandu mengelilingi Owabong. Hasil bumi yang digelar di depan panggung utama itu pun menjadi rebutan pengunjung dan warga Bojongsari, tak terkecuali pengelola dan staf Owabong. Usai ritual gunungan, satu persatu pemuda yang membawa kendil menggabungkannya dalam satu wadah tanah liat besar. Setelah didoakan, air dari tujuh sumber tersebut pun kembali menjadi rebutan untuk diminum dan membasuh muka. "Air yang didoakan mengandung keberkahan. Tidak dimaksudkan untuk ritus syirik dan musyrik. Ini adalah salah satu tradisi yang perlu dilestarikan di Purbalingga," ungkap Ustad Purlatif yang memimpin doa pada acara tersebut. Kamis kemarin, seluruh staf Owabong juga mengenakan baju tradisional, beskap dan kebaya jawa, serta menenakan baju lurik dan kain jarit. "Kami berupaya nguri-uri kebudayaan Jawa. Kebudayaan adiluhung yang beranjak terlupakan. Ini sudah tahun ke enam Owabong mengadakan Bersih Sumber," terang Kepala Divisi Operasional dan Pengembangan PD Owabong, Eko Susilo. Bersih Sumber, lanjut Eko, untuk melestarikan budaya menginat Owabong sumber utamanya adalah mata air. "Selain reboisasi kami juga mengadakan Bersih Sumber secara simbolis. Makna filosofinya untuk membersihkan jiwa dan raga kita untuk menyambut kedatangan bulan suci Ramadhan," jelasnya. Acara Bersih Sumber merupakan acara tematik yang menggabungkan kisah Jaka Saputra, seorang tokoh pejuang di wilayah Desa Bojongsari dan tradisi sedekah bumi. "Jadi ceritanya, salah satu pemuda dengan iring-iringannya memerankan tokoh Jaka Saputra yang mengambil air dari tujuh mata air sebagai simbol membawakan kemakmuran bagi masyarakat," ungkapnya. Iring-iringan tersebut, lanjut Eko, terdiri dari hasil bumi berupa sayur dan buah-buahan, kemudian tumpeng, serta jajan pasar yang dibagikan kepada pengunjung. "Owabong sudah 12 tahun ini pengunjungnya berlimpah. Sebagai rasa syukur kami persembahkan hasil bumi dan makanan tradisional bagi pengunjung Owabong," tambah Eko. Spesial pada Bersih Sumber tahun ini, Owabong melestarikan budaya mandi di sungai dengan bermain musik menepuk tangan di air, atau biasa disebut budaya ciblon. "Tepukan tangan di air pada ciblon tersebut mengiri lagu tradisional yang dibawakan Kelompok Gending Penayagan dari Kutasari. Sebagai komitmen Owabong untuk melestarikan budaya ini, ke depan akan diadakan lomba ciblon di Owabong," imbuhnya. (gal/nun)

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: