Ramadhan: Deteksi Dini Kalbu dan Ikhtiar Menuju Kebaikan
dr. Nur Rizki Fajrin Khotami. PPDS-1 Kedokteran Nuklir Universitas Padjajaran. Alumni Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Purwokerto 2014--
Oleh: dr. Nur Rizki Fajrin Khotami
PPDS-1 Kedokteran Nuklir Universitas Padjajaran
Alumni Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Purwokerto 2014
RAMADHAN kembali menyapa, membawa keberkahan yang melimpah dan peluang emas untuk "reparasi" spiritual. Bulan ini bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, melainkan sebuah laboratorium bagi jiwa untuk melakukan pembersihan diri.
Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Baqarah: 185: "...Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al-Qur'an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu serta pembeda (antara yang hak dan yang batil)." Bulan ini adalah laboratorium spiritual untuk mengkalibrasi ulang arah hidup kita.
Analogi Kedokteran Nuklir: Melihat Melampaui yang Tampak
Dalam dunia medis, khususnya Kedokteran Nuklir, kita mengenal teknologi seperti Single Photon Emission Computed Tomography (SPECT) atau Positron Emission Tomography (PET) scan. Teknologi ini menggunakan zat radioaktif (radiofarmaka) untuk mendeteksi perubahan fungsi seluler bahkan sebelum perubahan anatomi terlihat secara fisik.
Dalam spiritualitas, Ramadhan bertindak layaknya zat tracer (pelacak) tersebut. Ia masuk ke dalam relung batin kita, melacak "sel-sel" penyakit hati, seperti sombong, iri, dan riya yang seringkali tak kasatmata namun mampu merusak integritas spiritual kita. Jika dalam Kedokteran Nuklir kita mencari fokus radiasi untuk mendiagnosis penyakit, di bulan suci ini, kita harus mencari "fokus keimanan". Jangan biarkan hati kita menjadi "cold spot" (area yang tidak aktif) saat seharusnya kita sedang memancarkan cahaya ketakwaan yang terang benderang.
Amar Ma’ruf Nahi Munkar: Koreksi Fungsi Sosial
Ketakwaan yang didapat dari Ramadhan tidak boleh berhenti di atas sajadah. Ia harus memicu gerak nyata berupa amar ma’ruf nahi munkar (mengajak kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran).
Jika kita mengambil analogi kedokteran nuklir kembali, fungsi utama dari prosedur medis adalah terapi radiasi untuk menghentikan penyebaran sel yang berbahaya. Begitu pula dengan dakwah kita. Amar ma’ruf adalah upaya meningkatkan fungsi "sel" kebaikan dalam masyarakat agar tetap tumbuh sehat. Sedangkan nahi munkar adalah tindakan "terapi" untuk menghentikan penyebaran kemungkaran sebelum ia bermetastasis (menyebar) dan menghancurkan tatanan sosial masyarakat.
Berdiam diri melihat kemungkaran ibarat membiarkan penyakit berkembang tanpa penanganan. Padahal, tugas kita sebagai umat terbaik adalah menjadi "pelindung" bagi sesama. Mari jadikan momentum Ramadhan ini untuk menjadi pribadi yang proaktif. Jangan hanya menjadi penonton; jadilah agen perubahan yang membawa kemaslahatan, mulai dari lingkungan terkecil, keluarga, hingga profesi kita masing-masing.
Mari kita gunakan bulan suci ini untuk mengevaluasi "fungsi" diri kita. Sudahkah kita menjadi manusia yang bermanfaat? Apakah setiap gerak-gerik kita memancarkan "sinar" yang menenangkan bagi orang lain, atau justru menjadi sumber radiasi negatif yang merusak?
Semoga Ramadhan tahun ini menjadikan kita pribadi yang lebih tajam dalam mendeteksi kebenaran, kuat dalam menegakkan kebaikan, dan konsisten dalam menjauhi segala hal yang dibenci Allah SWT.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
