SPPG Bajong Perdana Beroperasi, Layani 2.655 Penerima
Pengemasan MBG di Dapur SPPGĀ Bajong.-Alwi Safrudin/Radarmas-
PURBALINGGA, RADARBANYUMAS.CO.ID – Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Bajong, Yayasan Bina Cita Karya Bangsa mulai beroperasi perdana, Senin (29/9). Di tahap awal, dapur gizi ini melayani 2.655 penerima manfaat dari 11 sekolah, ditambah balita, ibu hamil, dan ibu menyusui di sekitar Desa Bajong.
Kepala Dapur SPPG Bajong, Adi Pamungkas, menyebut sekolah yang terlibat di antaranya TK Pertiwi Bajong, BA Aisyah Bajong, RA Diponegoro 1 dan 2 Bajong, KB Mentari Aisyiyah, KB Az-Zahra, SDN 1 dan 3 Bajong, MI Ma’arif NU Bajong, SMPN 1, dan SMAN 1 Bukateja.
"Selain itu juga balita, bumil, dan busui di Bajong," katanya.
Tahap kedua dijadwalkan berjalan minggu berikutnya. Namun jumlah sasaran masih menunggu koordinasi dengan Kapokcam Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI). Saat ini, SPPG Bajong menjadi satu-satunya yang berjalan di Kecamatan Bukateja.
BACA JUGA:18 SPPG Sudah Beroperasi Namun Masih Jauh dari Kebutuhan
Untuk mencegah kasus keracunan, bahan baku diawasi sejak dari pemasok. Semua supplier berasal dari Purbalingga Kota dan sudah berizin PIRT.
"Kalau ada bahan yang kurang baik, langsung kami retur dan diganti," tegasnya.
Makanan yang diolah juga diuji lebih dulu. Dua guru yang ditunjuk kepala sekolah sebagai PIC wajib mencicip sebelum dibagikan. Setelah itu mereka mengisi dokumen laporan ke ahli gizi.
"Sistem tester ini baru. Sebelumnya pakai buffer atau cadangan makanan," terang Adi.
BACA JUGA:Resmikan Tiga Dapur SPPG, Mas Wabup Minta Kualitas Makanan MBG Dijaga
Selain tester dari guru, ada juga uji sampel dari ahli gizi. Saat ini, dapur gizi ditangani 50 pegawai dan 47 relawan. Pendistribusian dilakukan setiap lima hari dalam sepekan. Porsi kecil dikirim pukul 07.30 WIB, porsi besar pukul 08.30 WIB.
Camat Bukateja, Nur Azizah Erlita, menegaskan SPPG harus memenuhi standar. Salah satunya mensterilkan wadah dengan oven.
"Saya berpesan, kejadian di luar sana jangan sampai terjadi di sini," ujarnya.
Makanan SPPG juga tidak boleh dibawa pulang karena ada batas waktu konsumsi. SPPG pun sudah berkoordinasi dengan sekolah terkait siswa yang memiliki alergi. Kontrol dilakukan lewat pembinaan, dengan korwil pendidikan dan pengawas madrasah ikut berkoordinasi dengan dapur.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:

