Nasib Ratmin dan Jawir, Para Penambang Pasir Sungai Luk Ulo
Perahu para penambang pasir di Sungai Luk ulo. Di musim penghujan ini, mereka tak bisa beraktifitas karena banjir.--
Kehilangan Mata Pencaharian di Musim Hujan
Musim hujan bisa memiliki makna berbeda bagi setiap orang. Bagi petani misalnya, musim hujan adalah berkah. Namun bagi sebagian lain, musim hujan bisa berarti tidak begitu menyenangkan bahkan bencana. Lalu apa makna hujan bagi para penambang pasir di Sungai Luk ulo ini?
CAHYO K, Kebumen
SIANG itu, Selasa (11/11), belasan perahu jukung teronggok di pinggir Sungai Luk Ulo, persisnya di Desa Pandansari Kecamatan Klirong. Pemandangan ini tak seperti biasanya, sebab pada jam-jam itu seharusnya perahu-perahu itu bergerak menjemput rejeki ke sudut-sudut sungai terpanjang di Kebumen tersebut.
Ya, hujan dengan intensitas tinggi dalam beberapa hari terakhir, membuat para penambang pasir terpaksa memarkir perahu mereka. Mereka tak bisa menambang. Arus sungai Luk ulo naik bahkan bisa mengamuk setiap saat. Bukan saja terlalu berbahaya bagi penambang. Kondisi semacam ini membuat pasir nyaris tak mungkin mereka tambang.
Salah satu penambang pasir, sebut saja Kasan (46), mengaku sudah sepekan lebih mereka tak beraktivitas. Itu artinya, mereka kehilangan mata pencaharian. "Kalau musim penghujan begini, kami bingung cari makan," keluhnya.
Kegalauan Kasan juga dirasakan belasan penambang pasir lainnya. Ratmin (56), penambang pasir lain menyampaikan, nasib mereka tak sama. Ada yang masih punya lahan garapan meski mereka tak bisa menambang pasir. "Jadi kalau musim hujan begini, mereka beralih menggarap sawah. Setidaknya mereka punya sumber nafkah lain," ungkapnya.
Namun, sebagian lainnya, tidak demikian. "Harus putar otak cari uang kalau banjir begini," tambahnya.
Ratmin mengakui, penambang pasir bukan profesi yang menyenangkan. Mereka harus bekerja keras untuk mendapatkan uang Rp 100 ribu perhari. Bagi yang sudah terbiasa dan kuat secara fisik, jumlah itu bisa mereka peroleh setengah hari. Itupun dari pagi buta hingga tengah hari. "Bagi saya yang sudah tua ya sehari penuh, sampai sore," kata Jawir (55) penambang lain.
Uang itu masih dipotong untuk keperluan makan dan rokok. Sisanya, baru bisa dibawa pulang untuk memberi nafkah anak dan istri di rumah. "Harus benar-benar hemat agar tetap bisa makan," keluhnya.
Belum lagi, cap sebagai "biang kerusakan lingkungan" melekat bagi mereka. Ini artinya, mereka sering berhadapan dengan instansi pemerintah yang melarang mereka beraktifitas.
Ratmin dan Jawir mengakui, sungai Luk ulo kini semakin dalam karena kandungan pasirnya berkurang. Belum lagi erosi yang membuat areal persawahan dan pemukiman penduduk tergerus. Namun, setidaknya mereka berharap, pemerintah tidak sekedar memberlakukan larangan semata. Namun juga solusi. "Kami tidak masalah kalau harus berhenti menambang. Tapi kami kan tetap butuh makan. Kalau pemerintah bisa memberikan pekerjaan lain kami tidak keberatan (berhenti menambang)," ujar Jawir.
Kepala Desa Tanggulangin Kecamatan Klirong, Kasimin mengakui persoalan tambang liar pasir ini cukup dilematis. Di satu sisi, keberadaannya meresahkan karena merusak lingkungan. Di sisi lain, penambang juga butuh pekerjaan. "Untuk saat ini kami tengah berencana membangun kawasan wisata di jalur sungai Luk ulo. Harapannya, kelestarian lingkungan terjaga sementara para penambang pasir ini diharapkan bisa hidup dari sektor wisata," kata dia. (*)
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:

