Rempah Banjarnegara dari Dapur Desa ke Rak Dunia
Kristiono melakukan proses pembuatan rempah premium yang membawanya sampai pasar luar negeri.-Pujud Andriastanto/Radar Banyumas-
Perjalanan Rempah Banjarnegara yang Naik Kelas
DI sebuah rumah sederhana di Desa Karangjati, Kecamatan Susukan, aroma rempah menyeruak begitu pintu dibuka. Di ruang tamu yang disulap menjadi etalase kecil, puluhan kemasan rempah premium tersusun rapi, lada putih, lada hitam, pala bubuk, cengkeh, kunyit, hingga minuman rempah siap seduh. Warnanya hangat, labelnya elegan, dan tampilannya jauh dari bayangan “bumbu dapur biasa”.
PUJUD ANDRIASTANTO / BANJARNEGARA
Di tengah ruang itu, Kristiono Hadi Pranoto pria berkaca mata yang akrab disapa Kris tampak menata beberapa produk barunya. Jemarinya bergerak telaten, seolah setiap kemasan punya cerita yang harus disampaikan dengan rapi dan bangga.
“Saya melihat potensi rempah Banjarnegara itu luar biasa, sayangnya, harga jualnya dulu belum sesuai harapan. Karena itu pengolahan sampai kemasan harus dilakukan sesuai SOP supaya rempah kita punya nilai jual tinggi.”
Di halaman belakang rumah, suasana jauh lebih sibuk. Beberapa ibu sedang menjemur rempah di rumah jemur sederhana. Yang lain meracik, menimbang, atau menyegel kemasan premium ukuran kecil hingga besar. Aktivitas itu hampir berlangsung setiap hari, seolah desa kecil ini tak pernah kehabisan energi untuk menghasilkan aroma dan rasa.
BACA JUGA:Kisah Ikhlas Guru SLB, Digaji Rp 800 Ribu/Bulan, Prihatin Bekerja Sebagai Ibadah Untuk Akhirat
Dari tempat inilah, Kristiono membangun brand Tumata Indonesia, sebuah nama yang awalnya hanya ia bayangkan sebagai upaya kecil mengangkat harga rempah lokal. Namun langkahnya ternyata jauh melewati batas desa, kecamatan, bahkan negara.
Tak pernah ia bayangkan bahwa beberapa tahun setelah merintis usaha, produk rempahnya akan terbang ke luar negeri. Bukan hanya sebagai pesanan pribadi, tetapi benar-benar masuk ke pasar ritel di negara tujuan.
“Kalau untuk penjualan, sudah ke beberapa kota. Jakarta, Semarang, Surabaya dan lainnya, kemarin juga sempat dipakai sebagai oleh-oleh Pak Menteri waktu ada tamu dari luar negeri. Di Singapura sudah masuk swalayan. Termasuk Belanda.”
Kristiono kemudian tersenyum kecil, seolah masih tidak percaya bahwa rempah dari desa kecil di Banjarnegara kini bisa berada di rak swalayan negara lain.
BACA JUGA:Pulang Kampung, Arif Muttaqin Ubah Luwung Jadi Sentra Ikan Bawal Banjarnegara
Keberanian Kristiono mengemas rempah secara premium juga berimbas pada harga jual. Produk minuman rempah berisi 10 pack dijual mulai Rp 55 ribu hingga Rp 65 ribu. Ia menyadari harga itu tidak rendah, tetapi justru menjadi bukti kualitas yang ia kejar.
“Harganya memang lebih tinggi karena ini memang premium, dari kemasan sampai rasa saya sangat perhatikan. Saat ini ada 36 produk rempah yang kami pasarkan.”
Kualitas itu memberi hasil. Meski penjualan naik turun, omzet Tumata Indonesia kini berada di kisaran Rp 100 juta hingga Rp 150 juta per bulan.
“Memang belum menentu. Tapi kalau dirata-rata segitu,” tuturnya, walaupun sudah masuk pasar luar negeri, fokus utama kami tetap Indonesia karena jumlah penduduknya besar. Permintaannya pasti lebih banyak.”
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
