Rempah Banjarnegara dari Dapur Desa ke Rak Dunia
Kristiono melakukan proses pembuatan rempah premium yang membawanya sampai pasar luar negeri.-Pujud Andriastanto/Radar Banyumas-
Kristiono tidak ingin mencapai kesuksesan seorang diri. Ia melibatkan banyak warga desa, bukan hanya ibu-ibu pengolah rempah, tetapi juga pelaku usaha lain. Salah satunya pengrajin bambu lokal yang membuat kemasan tertentu untuk produknya.
“Kolaborasi dengan pelaku usaha lain itu penting, jadi bisa tumbuh bersama, saling suport. Beberapa kemasan menggunakan bambu dari pengrajin sekitar sini.”
Dari kolaborasi itulah Tumata Indonesia bukan hanya menghidupkan industri rumahannya, tetapi juga menggerakkan roda ekonomi desa.
Di ruang tamu yang sederhana itu, Kristiono kembali merapikan produknya. Ia memperhatikan satu per satu, memastikan semuanya tampil pantas untuk bersaing di pasar dunia. Di balik setiap kemasan, ada perjalanan panjang: dari tangan petani, dari jemuran sederhana, dari racikan ibu-ibu desa.
Rempah Banjarnegara kini bukan lagi sekadar bumbu dapur. Di tangan Kristiono dan masyarakat Karangjati, rempah itu pulang membawa harga baru dan cerita baru. Sebuah cerita tentang desa kecil yang berani bermimpi besar dan membuktikan bahwa kualitas premium bisa lahir dari mana saja, bahkan dari sudut desa paling sunyi.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
