[caption id="attachment_103638" align="aligncenter" width="500"]
DOKUMENTASI DR LUH PUTU UPADISARI[/caption]
Pengabdian Panjang dr Luh Putu Upadisari untuk Selamatkan "Pabrik Generasi"
Dokter Luh Putu Upadisari membuka klinik di pasar-pasar tradisional di Bali agar bisa menjangkau perempuan kelas bawah yang kerap abai dengan kesehatan reproduksi. Tak patok tarif, bahkan kerap beri pelayanan gratis.
Gunawan Sutanto, Denpasar
"Pergilah, laksanakan cita-citamu. Bekerjalah untuk hari depan. Bekerjalah untuk kebahagiaan beribu-ribu orang yang tertindas".
SURAT Kartini kepada Ny Abendanon pada 4 September 1901 itu mungkin cocok menggambarkan kebulatan tekad dr Luh Putu Upadisari untuk keluar dari zona nyaman. Dia memilih meninggalkan rumah sakit swasta. "Mengembara" memberikan pelayanan kesehatan kepada perempuan tak mampu.
"Ketika itu hati saya tidak sreg. Rumah sakit swasta di Denpasar tempat saya bekerja terlalu mempertimbangkan hal yang bersifat finansial," ujar Sari, panggilan akrab Luh Putu Upadisari.
Pengembaraan itu akhirnya melabuhkannya di pasar-pasar tradisional Bali. Selama lebih dari satu dekade terakhir dokter lulusan Universitas Udayana Denpasar itu memberikan pelayanan kesehatan reproduksi perempuan.
Sari tertarik pada kesehatan seksual dan reproduksi karena masih banyak perempuan yang belum memiliki pengetahuan memadai. Terutama tentu para perempuan dari kalangan bawah.
Padahal, di sanalah "pabrik" generasi bangsa berada. "Mereka tak punya waktu dan uang untuk berobat. Padahal, dari sisi anatomi, perempuan itu rentan terhadap infeksi," kata ibu tiga anak tersebut.
Ketergugahan Sari berawal dari kerisauan di masa kecil. Sang ibu sering pendarahan hebat di organ kewanitaannya. "Saat itu saya masih SMP. Sebagai anak perempuan pertama, saya harus menggantikan peran ibu sekaligus merawat beliau," cerita anak ke-4 dari 7 bersaudara tersebut.
Ketika itu, dia mencari informasi, penyakit apa yang sebenarnya dialami sang ibu. Pencarian itu pulalah yang mendorong Sari menjadi dokter.
"Setelah menjadi dokter, saya tahu bahwa ibu kelebihan hormon di kandungannya," katanya.
Beruntung, ibunda Sari bisa terselamatkan hingga saat ini. Latar belakang itulah yang membuat hati nurani Sari tergerak melakukan aksi sosial terkait kesehatan reproduksi perempuan.
Selepas keluar dari rumah sakit swasta tadi pada 1995, Sari memilih ikut dalam Yayasan Karti Praja. Yayasan itu bergerak dalam pelayanan kesehatan untuk pekerja seks komersial (PSK).
Di yayasan itu, Sari diberi keleluasaan untuk berinovasi. Salah satunya mengembangkan pelayanan kesehatan perempuan untuk masyarakat kelas bawah.
"Saya membuat program bagaimana masyarakat kelas bawah itu care dengan kesehatan reproduksinya," tutur istri Dr Dewa K.T. Sudarsana itu.
Dari yayasan tersebut, jejaring Sari meluas. Sampai akhirnya dia bekerja di sebuah lembaga yang melakukan kerja sama antara Indonesia dan AUSAID. Pekerjaan itu membawa Sari berkelana ke desa-desa di Nusa Tenggara Barat, Sulawesi Selatan, dan Bali. "Saya melakukan riset kesehatan perempuan," katanya.
Hasil riset itu menyayat hati Sari. Mengingatkan lagi pada kejadian yang pernah dialami ibunya, bahkan lebih parah. Dia menemukan banyak perempuan kelas menengah bawah yang mengalami gejala-gejala penyakit reproduksi.
Sari memutuskan membuat lembaga yang fleksibel dan independen. Dibentuklah Yayasan Rama Sesana pada 2004. "Pendiri yayasan itu berbagai kalangan. Tidak semuanya dokter," ucap Sari.
Pendirian yayasan itu diikuti dengan pendirian klinik di lantai 4 Pasar Badung. Sari memilih pasar tradisional karena tempat tersebut strategis untuk menjangkau perempuan kelas menengah ke bawah.
Soal kenapa Pasar Badung, itu disebabkan pasar tersebut yang terbesar di Bali. Setiap hari ada 5 ribuan orang yang datang ke sana. Kebanyakan tentu perempuan. Baik sebagai pembeli maupun penjual. Aktivitas pasar itu juga nyaris 24 jam.
Saat bertutur soal Pasar Badung, suara Sari mendadak lirih. Kenangan membawanya kembali ke insiden kebakaran pasar tersebut pada Februari lalu. Si jago merah yang meluluhlantakkan pasar juga menghabiskan Klinik Rama Sesana.
Sari tak menyangka klinik yang banyak dikenal masyarakat menengah ke bawah itu bakal habis terbakar. "Saat itu pukul 5 sore. Saya baru saja pulang dari klinik dan sampai rumah mendengar ada kebakaran di Pasar Badung,"kenangnya.
Sampai di tempat kejadian perkara, Sari hanya bisa menitikkan air mata, seperti para pemilik lapak lainnya. Beruntung, sebelum Pasar Badung kebakaran, Yayasan Rama Sesana telah menyiapkan klinik-klinik kesehatan "pabrik" generasi bangsa di pasar lain.
Di antaranya, di Pasar Intaran, Sanur; dan Pasar Seririt, Buleleng. Meskipun tak sebesar dan selengkap di Pasar Badung.
Sebagaimana di Pasar Badung, di pasar lain Sari juga melakukan pelayanan kesehatan reproduksi perempuan. Klinik yang tak mematok tarif, bahkan kerap menggratiskan pasiennya, itu melayani berbagai program kesehatan reproduksi.
Mulai pemasangan alat KB, pemeriksaan, hingga uji laboratorium. Para staf di klinik juga rutin blusukan memberikan edukasi. Dan, mendorong para perempuan di pasar memeriksa kesehatan reproduksinya di klinik.
Sembari menunggu pembangunan kembali Pasar Badung, kini Sari lebih banyak blusukan ke pasar-pasar di Bali dengan menggunakan mobile clinic. Dia tetap bersemangat, apa pun kondisinya. Sebab, dia bertekad untuk bekerja, mengutip surat Kartini tadi, "Demi hari depan, untuk beribu-ribu orang." (*/c6/ttg)
Tergugah karena Ibu Kerap Alami Pendarahan Hebat
Kamis 21-04-2016,10:59 WIB
Kategori :