Pilihan Rektor Unsoed: Kabut Gelap di Kampus Panglima

Rabu 01-04-2026,12:05 WIB

Oleh: Aji Nugroho

Aktivis Masyarakat Peduli Kampus Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed)

UNIVERSITAS Jenderal Soedirman (Unsoed) kini berada di titik persimpangan krusial. Rentetan skandal yang menghantam, mulai dari komersialisasi pendidikan melalui UKT hingga skandal kekerasan seksual Guru Besar FISIP telah melahirkan mosi tidak percaya di kalangan civitas akademika.

Kampus Merdeka atau Kampus Bahaya?

Dengan adanya laporan kekerasan seksual di UNSOED, predikat “Kampus Merdeka” kini dipelesetkan menjadi tanda tanya besar. Apakah Unsoed masih menjadi ruang aman bagi pengembangan intelektual, atau justru telah menjelma menjadi ruang bagi penyalahgunaan relasi kuasa?

Tuntutan Reformasi Total

Mahasiswa dan pengamat pendidikan mendesak adanya reformasi total, bukan sekadar pergantian wajah pimpinan. Tuntutan mereka jelas:

  • Audit Menyeluruh terhadap relasi kuasa dosen-mahasiswa.
  • Transparansi Anggaran pasca polemik UKT.
  • Pemecatan Permanen bagi pelaku kekerasan seksual tanpa pandang bulu terhadap gelar Profesor.

Kini, bola panas berada di tangan Senat Universitas. Apakah mereka akan memilih jalur aman untuk menyelamatkan citra, atau jalur tegas untuk menyelamatkan masa depan mahasiswa?

Kabut Gelap Suksesi: Siapa Nakhoda Berikutnya?

Mengingat masa jabatan Rektor saat ini, Prof.  Akhmad Sodiq, akan segera berakhir di tahun 2026, pertanyaan mengenai siapa suksesor berikutnya menjadi sangat mendesak. Publik menuntut sosok yang tidak hanya memiliki kredibilitas akademik, tetapi juga keberanian politik untuk membersihkan sisa-sisa “birokrasi pelindung” yang diduga masih bercokol di dalam kampus. Pemilihan Rektor 2026 bukan sekadar suksesi rutin, melainkan upaya penyelamatan marwah Unsoed. 

Integritas Pimpinan di Ujung Tanduk

Integritas Rektorat kini dipertanyakan secara terbuka. Ketegasan dalam kasus Guru Besar UNSOED dianggap sebagai ujian terakhir.

“Integritas tidak bisa diwakili oleh sekadar surat penonaktifan sementara. Jika Rektor tidak berani mendorong pemecatan  tidak hormat dan transparansi penuh, maka integritas kepemimpinannya dianggap gugur,” tegas Aji Nugroho, Aktivis Masyarakat Peduli Kampus dalam Aksi Reboan di depan Patung Jenderal Soedirman 

Kritik tajam mengarah pada lambatnya respons birokrasi yang dianggap lebih memprioritaskan “nama baik institusi” ketimbang keadilan bagi penyintas.

Pada akhirnya, publik menunggu apakah universitas yang menyandang nama besar Panglima Besar Jenderal Soedirman ini akan kembali pada khittahnya sebagai institusi pejuang yang menjunjung tinggi moralitas, atau justru membiarkan integritasnya luluh lantak oleh ego sektoral dan birokrasi yang tumpul. Rakyat Banyumas dan Indonesia menanti: mampukah Unsoed kembali menjadi ‘Monumen Hidup’ yang bersih, aman, dan berpihak pada kebenaran?”

Tags :
Kategori :

Terkait