Pengakuan atas keterbatasan itulah yang justru membuka jalan menuju kedewasaan spiritual, hati menemukan ketenangan.
Puasa tidak menuntut kesempurnaan, tetapi kesungguhan untuk kembali. Ketika Ramadhan berlalu, puasa seharusnya tidak ikut pergi, semestinya nilai-nilai itu tidak ikut hilang.
Jika kesabaran masih terjaga, jika lisan tetap lebih terkendali, jika empati tetap tumbuh dan mampu memaknai hidup, maka puasa telah menjalankan perannya dengan sempurna dan meninggalkan bekas yang nyata.
Pada akhirnya, puasa adalah jalan pelan menuju hati yang pulang, pulang kepada ketaqwaan. Jalan yang tidak ramai, tetapi menenangkan. Jalan yang mengajarkan bahwa dalam melambat, manusia justru menemukan arah dan kembali mengenal Tuhannya. (*)