Puasa Jalan Pelan Menuju Hati yang Pulang

Kamis 26-02-2026,04:01 WIB
Reporter : Deri Indira Fanani, S.Pd.AUD

Oleh: Deri Indira Fanani, S.Pd.AUD

(Guru TK UMP)

Puasa bukanlah perjalanan yang tergesa. Ia mengajak manusia melambat di tengah dunia yang terus berlari. Ketika kehidupan modern mendorong segalanya untuk serba cepat, puasa hadir sebagai jalan pelan yaitu jalan sunyi yang menuntun hati kembali pulang.

Pulang dari hiruk-pikuk keduniawian, dari tuntutan dunia menuju kesadaran sebagai hamba Allah Swt, menegaskan bahwa puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, melainkan sarana membentuk ketakwaan, dalam Al-Qur’an ditegaskan:

“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa” (QS. Al-Baqarah: 183).

Ketakwaan di sini bukan hanya soal kepatuhan lahiriah, tetapi kepekaan batin serta kemampuan mengendalikan diri dan mendengarkan suara hati. Dan bulan Ramadhan ini menghadirkan jeda, jeda untuk menahan diri, menata ulang niat, dan mengingat Kembali tujuan hidup.

Dalam lapar, manusia belajar tentang batas dirinya. Dalam haus, ia menyadari betapa rapuh dan bergantungnya ia kepada Tuhan. Pepatah Arab menyebutkan, “Man ‘arafa nafsahu faqad ‘arafa rabbahu” barang siapa mengenal dirinya, maka ia akan mengenal Tuhannya.

Puasa menjadi cermin yang jujur, memperlihatkan kelemahan tanpa merendahkan, sekaligus membuka ruang untuk tumbuh. Rasulullah SAW mengingatkan bahwa nilai puasa tidak terletak pada bentuknya semata.

“Barang siapa tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatan buruk, maka Allah tidak membutuhkan puasanya dari makan dan minum” (HR. Bukhari).

Hadis ini menegaskan bahwa esensi puasa terletak pada perubahan sikap dan akhlak. Ia mendidik lisan agar jujur, perilaku agar bersih, dan hati agar lurus. Jalan pelan itu terasa dalam ritme Ramadhan.

Sahur yang hening, azan maghrib yang dinanti, dan malam-malam yang panjang untuk bermunajat. Dalam jeda-jeda itulah, hati yang lelah oleh kesibukan dunia mulai menemukan ketenangan. Allah berfirman, “Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram” (QS. Ar-Ra’d: 28).

Puasa memberi ruang bagi zikir untuk hidup, bukan sekadar di lisan, tetapi juga dalam sikap.

Puasa juga menumbuhkan kepedulian sosial. Lapar menjadikan manusia lebih peka terhadap mereka yang kekurangan. Menahan diri melatih empati dan kesabaran, empati tidak lagi sebatas wacana, melainkan pengalaman.

Rasulullah SAW bersabda, “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya” (HR. Ahmad).

Dari puasa, manusia belajar bahwa ibadah yang baik akan selalu bermuara pada kebaikan sosial. Lebih dari itu, puasa adalah jalan berdamai dengan diri sendiri. Ia mengajarkan kejujuran bahwa manusia tidak selalu kuat, tidak selalu benar, dan tidak selalu mampu.

Tags :
Kategori :

Terkait