Cara Kotulingga Ajarkan Bahasa Tanpa Suara dari Sudut CFD Purbalingga

Kamis 19-02-2026,07:01 WIB
Reporter : Alwi Safrudin
Editor : Bayu Indra Kusuma

Gerakan Jemari Jadi Jembatan Komunikasi

Pagi Car Free Day di Purbalingga selalu ramai. Di tengah hiruk pikuk itu, ada sudut yang menawarkan keheningan yang berbicara. Bahasa di sudut ini tak lahir dari suara. Ia mengalir lewat gerak jemari dan tatapan mata. Itulah Komunitas Tuli Purbalingga. Warga mengenalnya sebagai Kotulingga.

ALWI SAFRUDIN, Purbalingga

Komunitas ini berdiri sejak 2019. Kini, sekitar 100 anggota bernaung dan bertumbuh bersama di dalamnya. Anggotanya merupakan anak-anak dan remaja tuna wicara serta tunarungu. Mereka datang dari Purbalingga, Banjarnegara, hingga Purwokerto.

Kotulingga berada di bawah pendampingan Sri Wahyuni dari Yayasan Pilar Purbalingga. Ia menyebut, persoalan utama bukan kepercayaan diri anggota.

BACA JUGA:Kisah Risma Ananda, Relawan di Posko Pengungsian Desa Serang

“Mereka yang bergabung di komunitas sudah lumayan percaya diri,” ungkap Sri Wahyuni.

Menurutnya, tantangan justru ada pada masyarakat umum. Banyak orang belum memahami keterbatasan yang dialami Teman Tuli.

“Secara fisik mereka sama seperti anak-anak lain. Tapi keterbatasan mendengar dan berbicara itu sering tidak disadari,” ujarnya.

Untuk menjembatani jarak tersebut, Kotulingga memilih turun langsung ke ruang publik. Car Free Day menjadi titik temu yang efektif.

BACA JUGA:Dari Coba-Coba Resep, Kue Mocaf Arin Jadi Favorit Konsumen Sehat

Mereka membuka lapak edukasi. Yang diajarkan adalah Bahasa Isyarat Indonesia atau Bisindo.

Respons pengunjung datang di luar dugaan. Anak-anak hingga orang dewasa berhenti, mencoba, dan belajar. Melalui interaksi sederhana itu, rasa asing perlahan mencair. Jemari bergerak, senyum pun tumbuh.

Aktivitas Kotulingga kini mulai mendapat perhatian lebih luas. Polres Purbalingga beberapa kali mengundang mereka untuk melatih bahasa isyarat bagi aparat.

Namun cita-cita Kotulingga tidak berhenti di sana. Mereka berharap layanan publik lain ikut ramah disabilitas.

BACA JUGA:Melihat Jejak Komunitas Dharma Bhakti Patanjala di Purbalingga

Tags :
Kategori :

Terkait