Batik Naga Tapa Dihidupkan Lagi, Motif Warisan yang Hampir Punah

Kamis 25-09-2025,07:27 WIB
Reporter : Alwi Safrudin
Editor : Bayu Indra Kusuma

PURBALINGGA, RADARBANYUMAS.CO.ID – Motif batik Naga Tapa, warisan langka dari masa Adipati Purbalingga, kembali diangkat ke permukaan.

Melalui Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda), Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Purbalingga berupaya menghidupkan kembali motif klasik yang sudah hampir punah tersebut lewat Lomba Desain Batik 2025.

Motif Naga Tapa pertama kali dibuat sekitar tahun 1940. Dahulu, batik ini hanya boleh dikenakan para adipati dan pamong praja Purbalingga. Kepala Bagian Perekonomian dan SDA Setda Purbalingga, Gunanto Eko Saputro, menyebutkan batik ini diciptakan oleh istri Adipati Dipokusumo V.

"Motif ini cukup istimewa karena menghadirkan naga Jawa yang berbeda dengan naga Eropa maupun Tiongkok. Selain itu, ada ornamen pohon hayat, flora-fauna, dampar, dan rumah joglo yang menjadikannya kaya makna," jelasnya.

BACA JUGA:Belum Ada Identitas Batik Purbalingga Meski Miliki Banyak Desain Motif

Kini, koleksi tersebut hampir punah dan tidak lagi diproduksi oleh sentra batik. Karena itu, Pemkab ingin menghidupkan kembali motif klasik ini agar bisa dipakai dalam kreasi batik masa kini.

"Kalau karya yang muncul bagus, ASN bisa memakai batik Naga Tapa. Produksinya akan melibatkan sentra batik lokal," lanjutnya.

Saat ini, terdapat 22 sentra batik di Purbalingga yang siap diberdayakan. Gunanto menegaskan, produksi batik khas Purbalingga harus kembali ke tangan pembatik lokal.

"Dulu banyak motif batik kita yang dibuat di luar daerah. Ke depan, semuanya harus diproduksi di Purbalingga, dari kita untuk kita sendiri," tegasnya.

BACA JUGA:Kenalkan Batik Limbasari, 14 Meter Kain Putih Dibatik Bersama

Lomba Desain Batik 2025 sendiri dibuka dalam dua kategori, yakni klasik dengan fokus pada motif Naga Tapa serta kreasi baru bertema sejarah dan alam Purbalingga. Lomba berlangsung hingga 25 September 2025, penjurian 26 September, dan pengumuman pemenang 27 September.

Hasil karya terbaik nantinya akan diproduksi serta ditampilkan dalam fashion show di Alun-alun Purbalingga, 25 Oktober 2025 mendatang.

"Dengan menghidupkan kembali motif klasik sekaligus melahirkan kreasi baru, Purbalingga diharapkan memiliki batik khas yang berbeda dari daerah lain, sehingga menjadi identitas dan kebanggaan bersama," tutupnya. (alw)

Tags :
Kategori :

Terkait