Persidangan awalnya dijadwalkan pada 2026, namun akhirnya dipercepat ke Desember 2025. Keputusan tersebut diambil atas permintaan kedua belah pihak dan disetujui oleh pengadilan.
BACA JUGA: BYD Shark 6 Resmi Meluncur: Pikap Hybrid Tangguh dengan Teknologi Modern
BACA JUGA:Honda Astrea Grand Reborn, Kembalinya Si Legenda Irit dengan Teknologi Canggih
Namun, keputusan apakah perkara ini akan ditentukan oleh juri atau hakim masih belum final. Kedua pihak sepakat untuk menunda keputusan ini sampai waktu yang lebih tepat.
Latar Belakang Konflik
Musk dikenal sebagai salah satu pendiri OpenAI pada tahun 2015 bersama Sam Altman. Namun, ia memutuskan keluar sebelum perusahaan berkembang pesat dan meluncurkan ChatGPT.
Setelah keluar, Musk mendirikan perusahaan pesaing bernama xAI pada 2023 dan mulai melancarkan kritik terhadap arah baru OpenAI. Ia menuding perusahaan terlalu fokus pada profit dan melupakan tujuan awalnya.
OpenAI Tegas Menolak Tuduhan
OpenAI membantah tudingan Musk dengan keras. Mereka menyebut perubahan struktur menjadi nirlaba terbatas justru penting agar perusahaan bisa bertahan dalam persaingan industri AI yang mahal dan kompleks.
BACA JUGA:AI Bantu Perkuat Keamanan MFA, Jadi Andalan Baru Hadapi Serangan Siber 2025
BACA JUGA:Kelebihan dan Kekurangan AI di Era Digital Sekarang
Langkah ini membuka peluang pendanaan yang lebih besar, termasuk dari SoftBank, demi keberlangsungan riset dan inovasi.
Bahkan, OpenAI telah menggalang dana hingga 6,6 miliar dolar AS dan masih berencana mengumpulkan lebih dari 40 miliar dolar AS ke depannya.
Tawaran Akuisisi Ditolak
Gugatan balik ini juga muncul tak lama setelah Altman menolak tawaran akuisisi dari konsorsium yang dipimpin oleh Musk. Konsorsium tersebut mengajukan penawaran senilai 97,4 miliar dolar AS untuk membeli OpenAI.
BACA JUGA:Ini dia Italjet Speedster 200, Skuter Sporty Berteknologi Canggih dengan Desain Memikat
BACA JUGA:Bedah Teknologi Geely EX5 2025: SUV Listrik Modern untuk Indonesia
Namun Altman dengan tegas mengatakan, “Tidak, terima kasih,” tanpa membuka ruang negosiasi. OpenAI menilai tawaran tersebut sebagai siasat tersembunyi untuk mengganggu kestabilan perusahaan.
Strategi Musk Dianggap Sandiwara
Dalam dokumen gugatan, OpenAI menyebut tawaran Musk bukanlah bentuk niat baik, melainkan bagian dari strategi licik. Mereka menyamakan potensi akuisisi tersebut dengan pengalaman buruk ketika Musk mengambil alih Twitter.