Fasilitas kesehatan primer, seperti puskesmas atau klinik keluarga, dapat menjadi titik awal bagi individu untuk mengakses layanan kesehatan mental.
Penting bagi tenaga medis di fasilitas ini untuk dilatih dalam mengidentifikasi dan menangani masalah kesehatan mental serta merujuk pasien yang membutuhkan perawatan lanjutan ke spesialis kesehatan mental.
Penting untuk melakukan promosi dan advokasi tentang layanan kesehatan mental yang tersedia di masyarakat. Ini dapat dilakukan melalui kampanye publik, media sosial, dan kerjasama dengan organisasi non-profit dan komunitas.
Informasi tentang cara mengakses layanan kesehatan mental juga harus mudah diakses dan dipahami oleh masyarakat umum.
3. Melawan Stereotip dan Diskriminasi
Melawan stereotip dan diskriminasi terhadap orang yang mengalami masalah kesehatan mental adalah langkah penting dalam upaya mengurangi stigma di masyarakat.
Dengan melakukan pelatihan anti-stigma bagi individu dan kelompok, termasuk tenaga medis, pekerja sosial, dan anggota masyarakat umum, dapat membantu meningkatkan pemahaman dan empati terhadap individu yang mengalami masalah kesehatan mental.
BACA JUGA:Anxiety Disorder: Tanda-tanda Pada Kesehatan Mental yang Penting untuk Diperhatikan
Pelatihan ini dapat mencakup informasi tentang stereotip dan diskriminasi, serta strategi untuk mengatasi mereka secara efektif.
Selain itu, penting untuk menghindari penggunaan bahasa atau istilah yang merendahkan atau stigmatik terkait dengan kesehatan mental.
Ini termasuk menghindari penggunaan istilah derogatif seperti "gila" atau "retardasi mental", dan menggunakan bahasa yang lebih sensitif dan menghormati individu yang mengalami masalah kesehatan mental.
4. Membangun Dukungan Komunitas Untuk Mempromosikan Kesehatan Mental
Membangun dukungan komunitas merupakan salah satu cara penting dalam mengatasi stigma kesehatan mental dan memberikan dukungan yang efektif kepada seseorang yang sedang membutuhkannya.
Dengan mendirikan kelompok dukungan kesehatan mental lokal dapat memberikan platform bagi individu yang mengalami masalah kesehatan mental untuk saling berbagi pengalaman, dukungan, dan sumber daya.
Kelompok ini dapat dipandu oleh fasilitator yang terlatih dan memungkinkan anggotanya untuk merasa didengar, dipahami, dan diterima.