Ditarget 20 Persen Petani Muda, BPP Banyumas Sumpiuh Gencar Identifikasi
Penyuluh pertanian BPP Kecamatan Sumpiuh melakukan identifikasi petani muda dalam rangka peningkatan jumlah petani zilenial yang ditarget kementerian, Kamis (19/2).-FIJRI RAHMAWATI/RADARMAS-
BANYUMAS, RADARBANYUMAS.CO.ID – Kementerian Pertanian menargetkan peningkatan jumlah petani muda zilenial mulai tahun anggaran 2026. Langkah ini dilakukan untuk mengantisipasi ancaman krisis regenerasi petani sekaligus mempercepat pencapaian swasembada pangan.
Merespons kebijakan tersebut, Balai Penyuluh Pertanian (BPP) menggencarkan sosialisasi dan memaksimalkan identifikasi generasi muda yang berminat menekuni usaha di sektor pertanian. Upaya ini menjadi bagian dari strategi jangka panjang agar desa tidak kehilangan pelaku utama produksi pangan.
BPP Kecamatan Sumpiuh bahkan telah merintis pertumbuhan petani muda sejak 2025 melalui program Taruna Karya Mandiri Cabai Rawit Merah Menuju Kecamatan Berdaya (Takara Merdaya). Program ini melibatkan sepuluh petani muda sebagai embrio regenerasi di tingkat kecamatan.
"Target Kementerian Pertanian terdapat 20 persen petani muda di desa-desa. Kita mulai merintis tahu lalu," jelas Koordinator Penyuluh BPP Kecamatan Sumpiuh Fitriana, Kamis (19/2). Pernyataan itu menegaskan bahwa langkah persiapan sudah dimulai sebelum target nasional diberlakukan.
BACA JUGA:Sentuhan di Kediri dan Pandakraden untuk Banyu Mili Petani Mukti
Dalam sosialisasi, penyuluh menekankan pentingnya perubahan paradigma tentang profesi petani. Selama ini muncul kesan kuno ketika generasi muda berkecimpung dalam dunia pertanian sehingga minat terus menurun dari waktu ke waktu.
Kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi para penyuluh pertanian di lapangan. Mereka berupaya mengajak generasi muda melihat peluang ekonomi sektor pertanian dengan pendekatan yang berbeda dari pendahulunya.
"Petani tidak identik dengan kuno, miskin, kotor atau cangkul. Sekarang sudah banyak inovasi di bidang pertanian yang memudahkan petani, pemerintah juga memfasilitasi ilmu pengetahuan dan keterampilan," sambung Fitriana. Ia menekankan bahwa modernisasi dan dukungan fasilitas menjadi kunci menarik minat generasi baru.
Salah satu peserta program Takara Merdaya, Dwi Sulkhani, mengaku mulai menikmati hasil dari menanam cabai rawit. Terlebih, dalam beberapa waktu belakangan harga cabai rawit sedang moncer sehingga memberikan keuntungan lebih cepat.
BACA JUGA:Serangan Kresek Ancam Sawah Kemranjen Banyumas, Petani Lakukan Penyemprotan Massal
Menurutnya, pada panen ke sepuluh modal yang dikeluarkan sudah kembali. Capaian tersebut menjadi bukti bahwa sektor pertanian mampu memberikan perputaran modal relatif cepat jika dikelola dengan tepat.
Khani sebagai petani muda memperoleh paket bantuan bibit cabai rawit dan 29 item sarana produksi lainnya dalam program Takara Merdaya sebagai stimulan. Namun, ia tetap merogoh kocek pribadi untuk biaya olah lahan dan sebagian obat-obatan.
"Selain saya, petani muda lainnya ada, gabung ke kelompok tani tapi kami bagian khusus palawija," jelas Khani ketika ditanya oleh penyuluh pertanian yang sedang melakukan identifikasi. Ia menyebut keterlibatan dalam kelompok tani mempermudah koordinasi dan pengembangan usaha.
Langkah BPP Kecamatan Sumpiuh ini diharapkan mampu menjadi model percepatan regenerasi di tingkat desa. Dengan target 20 persen petani muda, kolaborasi program, bantuan stimulan, dan perubahan cara pandang menjadi fondasi menuju ketahanan pangan berkelanjutan. (fij)
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
