Banner v.2

Sentuhan di Kediri dan Pandakraden untuk Banyu Mili Petani Mukti

Sentuhan di Kediri dan Pandakraden untuk Banyu Mili Petani Mukti

BANYU MILI. Ketua Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A) Raharja Desa Karanganyar, saat menunjukkan aliran Daerah Irigasi Kediri yang baru saja dilakukan pemeliharaan tahun 2025.-JUNI R/RADARMAS-

PURWOKERTO, RADARBANYUMAS.CO.ID - Salah satu pekerjaan besar pemerintah saat ini ialah soal ketahanan pangan nasional. Di Kabupaten Banyumas, Bupati Sadewo Tri Lastiono mengusung konsep Banyu Mili Petani Mukti sebagai salah satu cara diantara beberapa jalan mencapai swasembada pangan. 

Ketahanan pangan menjadi isu yang benar-benar diperhatikan pemerintah. Tak kurang, Presiden Prabowo berkali-kali menekankan pentingnya kedaulatan pangan sebagai syarat mutlak bagi kemerdekaan dan ketahanan bangsa. 

"Saya sepakat dengan pemikiran Pak Prabowo tentang isu ketahanan pangan. Dalam program Trilas di era kepemimpinan saya, ada  program yang fokus untuk mewujudkan swasembada pangan lokal menuju kesejahteraan petani," ujar Bupati Banyumas Sadewo Tri Lastiono, Selasa sore, 10 Februari 2026, di ruang kerjanya.

Sementara di tempat terpisah, Jumat, 13 Februari 2026. Pagi baru bermula di Desa Karanganyar, Kecamatan Patikraja. Matahari datang pelan tanpa tergesa. Langit masih mendung. Di ujung-ujung daun masih ada embun. 

Seorang petani setempat, Untung Subagyo selalu mengawali momen itu dengan penuh syukur dan rasa beruntung.  "Bersyukur karena masih diberi umur. Beruntung karena saya lahir dan tumbuh di Desa Karanganyar ini," katanya. Sekejap kemudian senyum merekah di bibir lelaki berusia 63 tahun itu.

Untung yang juga Ketua Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A) Raharja Desa Karanganyar menuturkan, panen padi di desanya bisa mencapai tiga kali dalam satu tahun. Belum semua semua desa di Kabupaten Banyumas bisa seperti itu. 

"Kita ada tiga kali masa tanam dalam satu tahun. Masa tanam satu itu Januari sampai April.  Masa tanam yang  kedua Mei sampai Agustus. Yang terakhir, masa tanam September hingga Desember," ujar Untung.

Apa rahasianya ? Untung mengatakan, kuncinya ialah pada Daerah Irigasi (DI) Kediri. Daerah irigasi itu menjadi urat nadi pertanian sekaligus sumber penghidupan bagi 600 lebih petani. 

Mereka  tersebar mulai dari Desa Karanganyar, Kedungwuluh Lor, Kedungwuluh Kidul, Notog, Desa Panusupan Kecamatan Cilongok, dan Desa Kediri, Karanglewas.  "Daerah Irigasi Kediri dibangun pada tahun 1983 silam. Keberadaanya sangat bermanfaat bagi para petani," ujarnya. 

Daerah Irigasi Kediri mengairi  731 hektare lebih lahan pertanian. 

Tanpa adanya  daerah irigasi tersebut, Untung mengatakan, panen hanya mungkin menghasilkan satu ton gabah per hektarnya. Itu pun kalau tidak ada hama. 

Setiap panen, Untung rajin mencatat hasilnya dalam buku kecil. Satu hektare lahan pertanian bisa menghasilkan tiga sampai empat ton gabah. 

"Kalau lagi kurang bagus 2,5 ton sampai 3 ton," ujarnya. 

Tentu saja, hasil panen tersebut jauh lebih baik dibanding dengan lahan pertanian tadah hujan. Lahan pertanian tipe itu, ia sebut, sangat bergantung cuaca.  "Padahal, cuaca semakin sulit diprediksi. Kalau tidak ada hujan tidak bisa tanam," terangnya. 

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: