Tumpek Landep, Tradisi Umat Hindu Mohon Ketajaman Pikiran
Salah satu umat Hindu di Desa Klinting menaruh sesaji di pelinggih dalam rangka tradisi Tumpek Landep, Sabtu (22/2/2025). -SLAMET UNTUK RADARMAS-
BANYUMAS, RADARBANYUMAS.CO.ID -Umat Hindu di Kabupaten BANYUMAS melakukan tradisi Tumpek Landep yang diperingati setiap Saniscara atau Sabtu Kliwon wuku Landep, (22/2/2025). Rangkaian kegiatan setelah hari raya Saraswati.
Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Kabupaten Banyumas Slamet Rahardjo menuturkan Tumpek Landep merupakan hari raya pemujaan kepada Ida Bhatara Sang Hyang Siwa Pasupati sebagai dewanya taksu.
Dalam konsep Hindu disebut Slamet bahwa Landep berarti tajam. Secara filosofis bermakna tonggak penajaman, citta, budhi dan manah atau pikiran.
Umat Hindu di Kabupaten Banyumas membuat sesaji dan persembahyangan di rumah masing-masing pada tradisi Tumpek Landep.
BACA JUGA:Perlon Punggahan Bonokeling, Tradisi Ziarah Jelang Ramadhan yang Bertahan Ribuan Tahun
BACA JUGA:Tradisi Ruwahan, Diyakini Bulan Baik Perbaikan Panembahan
"Memohon wara nugraha kepada Ida Bhatara Sang Hyang Siwa Pasupati agar diberi ketajaman pikiran supaya menjadi orang yang berguna bagi masyarakat," kata Slamet.
Sehingga umat Hindu berperilaku berdasarkan kejernihan pikiran dengan landasan ilmu agama sehingga mampu memilah dan memilih antara baik dan buruk.
Momentum Tumpek Landep sekaligus untuk memerangi kebodohan, kegelapan dan kesengsaraan. Serta mampu menekan perilaku buthakala yang ada di dalam diri.
Tumpek berasal dari kata metu yang artinya bertemu dan mpek yaitu akhir. Disebut Slamet bahwa tumpek merupakan hari pertemuan wewaran panca wara dan sapta wara.
BACA JUGA:Warga Kebumen Uri-uri Tradisi Sambut Bulan Suci
BACA JUGA:Ratusan Warga Desa Sirukun Gelar Tradisi Ruwahan Jelang Ramadan
"Sedangkan Landep berarti tajam atau runcing, maka diupacarai juga beberapa pusaka yang memiliki sifat tajam seperti keris," tandas Slamet. (fij)
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:

