Banner v.2

Ratusan Warga Desa Sirukun Gelar Tradisi Ruwahan Jelang Ramadan

Ratusan Warga Desa Sirukun Gelar Tradisi Ruwahan Jelang Ramadan

Ratusan warga Desa Sirukun Banjarnegara saat menggelar ruwahan doa bersama dengan membawa tenongan yang berisi makanan dalam prosesi Ruwahan.-PUJUD/RADARMAS-

BANJARNEGARA, RADARBANYUMAS.CO.ID - Ratusan warga Desa Sirukun, Kecamatan Kalibening, menggelar prosesi Ruwahan sebagai bagian dari tradisi menyambut akan datangnya bulan suci Ramadan.

Kepala Desa Sirukun, Karpi menjelaskan, Ruwahan dilaksanakan pada bulan Sya'ban dalam kalender Hijriyah dan telah menjadi bagian tak terpisahkan dari budaya masyarakat Jawa, khususnya di desanya.

"Kegiatan ini telah menjadi bagian tak terpisahkan dari budaya masyarakat Jawa, khususnya di Desa Sirukun," kata Karpi, Rabu (12/2/2025).

Pelaksanaan Ruwahan diawali dengan kegiatan bersih-bersih makam leluhur sebagai bentuk penghormatan. Setelah itu, warga membawa makanan dari rumah dalam wadah tenongan ke masjid untuk doa bersama

BACA JUGA:Pemeriksaan Kesehatan Gratis Resmi Digulirkan di Banjarnegara, Warga yang Ulang Tahun Bisa Berobat Tanpa Biaya

BACA JUGA:Lapangan Golf Mrica Disulap Jadi Destinasi Sport Tourism, Targetkan Penggemar Golf Nasional

"Setelah doa bersama, warga kemudian menukar makanan dan menikmatinya bersama-sama sebagai bentuk kebersamaan," ujar Karpi.

Selain itu, dalam tradisi Ruwahan, masyarakat juga melakukan tabur bunga di makam leluhur setelah gotong royong membersihkannya.

Prosesi ini kemudian dilanjutkan dengan doa bersama yang dipimpin oleh pemuka agama untuk mengirimkan doa kepada arwah leluhur agar mendapatkan tempat terbaik di sisi Tuhan Yang Maha Esa.

Karpi menambahkan, Ruwahan juga menjadi ajang bagi masyarakat untuk saling bermaaf-maafan serta berdoa agar diberikan kemudahan dan kesehatan dalam menjalankan ibadah puasa Ramadan. 

"Dengan digelarnya Ruwahan, warga Desa Sirukun berharap agar keberkahan dan kebaikan senantiasa menyertai mereka dalam menyambut bulan suci Ramadan," katanya.

Ia berharap, tradisi ini terus dilestarikan sebagai bagian dari warisan budaya yang tidak hanya memiliki nilai spiritual, tetapi juga mempererat hubungan sosial masyarakat. (jud)

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: