Jangan Biarkan Ramadan Berlalu Tanpa Jejak
dr. Anindya Ryan Pramudya (Alumni Fakultas Kedokteran UMP 2014).--
Oleh: dr. Anindya Ryan Pramudya
(Alumni Fakultas Kedokteran UMP 2014)
Allah SWT berfirman:
“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 183)
Ayat ini menegaskan bahwa tujuan utama puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, melainkan membentuk takwa. Ramadan hadir bukan hanya sebagai ritual tahunan, tetapi sebagai proses pendidikan jiwa untuk mencapai ketenangan. Namun pertanyaannya: apakah Ramadan benar-benar meninggalkan jejak perubahan dalam diri kita?
Rasulullah SAW bersabda:
“Barang siapa tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatan keji, maka Allah tidak membutuhkan ia meninggalkan makan dan minumnya.” (HR. Bukhari)
Hadis ini menegaskan bahwa esensi berpuasa terletak pada transformasi moral. Dalam perspektif psikologi, puasa merupakan latihan self-regulation, kemampuan mengendalikan dorongan, emosi, dan respon. Seseorang yang mampu menahan diri dari yang halal karena ketaatan kepada Allah, seharusnya lebih mampu menjauhi yang haram karena kesadaran etis. Di sinilah Ramadan membangun integritas: ketaatan yang lahir dari kontrol internal, bukan sekadar tekanan eksternal.
Rasulullah SAW juga bersabda:
“Puasa adalah perisai.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Sebagai perisai, puasa melindungi manusia dari perilaku destruktif dan dorongan hawa nafsu. Takwa bukan hanya simbol kesalehan, tetapi standar moral dalam setiap keputusan. Orang yang bertakwa menjaga amanah meski tidak diawasi, menjaga kejujuran meski tidak dipuji. Nilai ini sangat relevan dalam kehidupan akademik, profesional, maupun sosial, di mana integritas menjadi fondasi kepercayaan.
Ramadan juga melatih empati sosial. Rasa lapar menghadirkan kesadaran bahwa di sekitar kita ada saudara yang hidup dalam keterbatasan. Dari sini tumbuh kepedulian, zakat ditunaikan dengan kesadaran, sedekah diberikan dengan keikhlasan. Amar ma’ruf nahi munkar diwujudkan dalam ajakan pada kebaikan, sikap santun, dan keteladanan. Kesalehan personal harus bermuara pada kemaslahatan sosial.
Di era digital, puasa semakin relevan. Pengendalian diri tidak hanya pada konsumsi fisik, tetapi juga konsumsi informasi. Menjaga lisan berarti menjaga tulisan dan unggahan. Ramadan mengajarkan kita untuk tidak mudah terpancing emosi, tidak menyebarkan kabar yang belum jelas, dan tidak memperkeruh suasana. Justru pada bulan suci inilah komunikasi yang menyejukkan dikedepankan.
Sebagai penutup, Rasulullah SAW mengingatkan:
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
