Bersyukur: Ketika Iman Bertemu Mekanisme Biologi
Dosen Fakultas Kedokteran, Universitas Muhammadiyah Purwokerto, Dr. dr. M Fadhol Romdhoni, M.Si.--
Oleh: Dr. dr. M Fadhol Romdhoni, M.Si.
(Dosen Fakultas Kedokteran, Universitas Muhammadiyah Purwokerto)
“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, ‘Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat.’” (QS. Ibrahim: 7)
Ayat itu sering kita dengar, namun jarang kita implementasikan sebagai sebuah hukum kehidupan. Bersyukur sering kita pahami sekedar ucapan terima kasih. Namun sebenarnya, rasa syukur adalah suatu mekanisme psikologis dan fisiologis yang memengaruhi seluruh sistem tubuh dan cara kita memaknai hidup. Ilmu modern kini membuktikan bahwa rasa syukur bukan sekadar etika atau moral; ia berinteraksi dengan otak dan tubuh kita dalam cara yang sangat nyata.
Kata “syukur” berasal dari akar kata yang berarti mengakui dan menghargai nikmat yang telah diberikan. Dalam konteks keagamaan, bersyukur adalah pengakuan terhadap bahwa segala hal yang kita rasakan dan miliki datang bukan semata dari usaha kita sendiri, tetapi sebagai anugerah. Ramadan menjadi waktu yang tepat bagi umat Muslim mengasah rasa syukur ini, sebab puasa mengajarkan kita merasakan lapar dan haus, yang lantas memperjelas betapa banyak nikmat yang sering kita anggap biasa seperti makanan, minuman, kesehatan, dan kemampuan menjalani kegiatan sehari-hari.
Syukur bukan hanya soal memahami iman, namun punya dampak bagi kesehatan. Penelitian menunjukkan bahwa rasa syukur yang rutin dipraktikkan, misalnya dengan refleksi harian atau berucap terima kasih, dapat meningkatkan kesejahteraan emosional, mengurangi stres dan kecemasan, serta membantu tidur yang lebih berkualitas. Bahkan dampaknya mencapai sistem kardiovaskular: respon syukur memicu aktivasi sistem saraf parasimpatis, menurunkan tekanan darah dan memperbaiki variabilitas detak jantung.
Secara psikologis, rasa syukur membantu kita memusatkan perhatian pada apa yang baik dalam hidup kita, bukan pada kekurangan atau kegagalan. Ini bukan sekadar “memikirkan hal positif”; ini adalah pelatihan mental yang mengubah pola pikir dan struktur saraf otak, sehingga lama-kelamaan kita jadi lebih mudah melihat kesempatan, bukan hambatan dalam hidup.
Pada tingkat sosial, syukur mempererat hubungan antarmanusia. Saat kita mengaku menerima kebaikan dari orang lain, ikatan emosional kita dengan mereka menguat. Rasa syukur mendorong empati dan kemurahan hati, yang membuat masyarakat secara keseluruhan menjadi lebih harmonis dan penuh perhatian satu sama lain.
Bersyukur juga seperti “autofagi” bagi jiwa: ia membersihkan tekanan psikologis yang menumpuk dan mendaur ulang perhatian kita sehingga kembali fokus pada makna hidup. Meskipun syukur bukan solusi tunggal untuk segala persoalan, ia adalah alat sederhana yang bisa kita gunakan setiap hari untuk memperkaya pengalaman hidup sekaligus menyehatkan pikiran dan tubuh.
Maka, pada akhirnya, bersyukur bukan sekadar ucapan. Ia adalah cara berpikir, cara hidup, dan bahkan cara fisiologi kita berinteraksi dengan lingkungan. Saat kita bersyukur atas nikmat kesehatan, keluarga, dan kesempatan untuk beribadah, kita tidak hanya menyampaikan rasa terima kasih secara spiritual, tetapi juga memberi sinyal positif kepada tubuh dan pikiran kita bahwa hidup ini layak dijalani secara penuh dan bermakna.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:

