Swedia, Ibra Mendapat Dukungan Dari Publik Prancis
SAINT-DENIS – Zlatan Ibrahimovic boleh berasal dari Swedia. Tapi, Paris adalah kandangnya. Dan Stade de France hanya berjarak 9,4 kilometer dari rumahnya, markas klub yang dibelanya empat musim terakhir, Paris St Germain. Tidak mengherankan kalau dalam laga Grup E antara Republik Irlandia versus Swedia dini hari nanti, Ibra optimistis mendapatkan dukungan dari seluruh publik kota mode.
''Ini akan menjadi laga spesial untuk saya,'' ucap striker berusia 34 tahun tersebut, dalam wawancara dengan situs resmi UEFA. Dari 81 ribu tempat duduk Stade de France nanti, memang tidak ada garansi bakal diserbu oleh fans PSG yang ingin menonton dirinya. Hanya, diakui Ibra, setidaknya atmosfer Saint-Denis sudah bersahabat dengannya. ''Saya merasa mereka (fans PSG dari Saint-Denis) berada di belakang saya,'' lanjutnya.
Musim lalu, striker 34 tahun itu sudah memberikan kebahagiaan maksimal untuk fans PSG. Kecuali kegagalan di Liga Champions, Ibra membawa PSG menyapu bersih gelar juara di level domestik Prancis. Ligue 1, Coupe de France, Coupe de la Ligue, dan Trophee des Champions.
Pelatih Irlandia Erik Hamren mengaku tidak terintimidasi dengan fakta dukungan total Paris terhadap calon lawannya. Malah, hal itu bisa jadi tekanan tersendiri bagi Ibra. ''Lihat saja beberapa hari ke depan apa yang terjadi di Saint-Denis,'' kata Hamren kepada Irish Examiner.
Yang harus ditakuti dari Swedia, kata Hamren bukan hanya Ibra. Lebih dari itu, ada dukungan besar dari lini kedua yang berpotensi merusak mimpi mereka memenangkan laga Euro pertamanya sejak 16 Juni 1988. Salah satunya dari attacking midfielder Albin Ekdal. Pemain Hamburg itu sudah fit dari cedera tulang belakang. Ketika mengusung formasi 4-4-2, Ekdal bisa beralih menjadi jangkar di belakang Ibra-Marcus Berg dalam skema 4-3-1-2.
Pendeknya, kubu The Boys In Green—julukan Irlandia—harus bekerja ekstrakeras. Apalagi kiper Darren Randolph tidak punya pengalaman menghadapi Ibra. Shay Given yang sudah berusia 40 tahun-lah yang pernah menghadapinya. ''Banyak yang bertanya, apa kami mampu menghentikan Ibra? Jawabannya? Ya, kenapa tidak, kami siap untuk itu,'' koar Randolph.
Kiper 29 tahun itu menyebut Ibra bukan pemain yang mustahil untuk dihentikan. ''Semuanya tergantung dari cara kami untuk menjinakkannya. Jika itu bisa dilakukan, maka kami pasti akan mendapat kesempatan meraih hasil bagus di laga nanti. Jerman saja pernah kami kalahkan (pada kualifikasi Euro 2016, Red), kenapa tidak dengan Swedia,'' tegas Randolph. (ren/na)
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:

