Empat Kecamatan Eks Kotip Purwokerto Tidak Masuk Lokus Percepatan Penanganan Kemiskinan Ekstrem

Empat Kecamatan Eks Kotip Purwokerto Tidak Masuk Lokus Percepatan Penanganan Kemiskinan Ekstrem

Meski sebagian warga digelontor bantuan telur, tujuh kelurahan pada wilayah Kecamatan Purwokerto Barat tidak masuk lokus percepatan penanganan kemiskinan ekstrem di Banyumas.-YUDHA IMAN PRIMADI/RADARMAS-

PURWOKERTO, RADARBANYUMAS.DISWAY.ID - Enam kecamatan di Kabupaten Banyumas tidak masuk lokus percepatan penanganan kemiskinan ekstrem tahun ini. Empat diantaranya kecamatan eks kotip PURWOKERTO.

Kepala Bidang Pemberdayaan Sosial dan Penanganan Fakir Miskin (PSPFM) Dinsospermades Banyumas, Galih Prihambodo SSTP mengatakan, 60 desa yang masuk lokus percepatan penanganan kemiskinan ekstrem di Kabupaten Banyumas tersebar di 21 kecamatan.

Dari total 27 kecamatan seKabupaten Banyumas, ada enam kecamatan yang masuk lokus percepatan penanganan kemiskinan ekstrem.

"Empat kecamatan di wilayah eks kotip ditambah Kecamatan Sokaraja dan Baturraden," katanya.

BACA JUGA:Antisipasi Gerusan Sungai Pelus, DPU Pasang 400 Buah Kubus Beton

BACA JUGA:Tanah Bergerak di Pasir Kidul Purwokerto, 3 Rumah Alami Kerusakan

Galih menjelaskan, dari 60 desa di 21 kecamatan yang masuk lokus percepatan penanganan kemiskinan ekstrem tahun ini, saat ini untuk komponen kemiskinan ekstrem seperti komponen stunting dan komponen disabilitas sudah habis.

Untuk komponen listrik tinggal 160 jiwa yang belum mendapat saluran listrik pribadi diantaranya ada di Desa Watuagung dan Rawaheng. 

"Targetnya komponen listrik juga nol. Yang menggarap dinas teknis dari provinsi," terang dia.

Dilanjutkan, jika melihat Inpres sebenarnya hampir semua desa di Indonesia ada masyarakat miskin ekstremnya. Tetapi untuk mempercepat penanganannya dibuat skup sehingga dicari pada desa mana yang memiliki komponen kemiskinan ekstrem paling banyak dan di Banyumas ditemukanlah 60 desa yang masuk lokus percepatan penanganan kemiskinan ekstrem.

"Tingkat kemiskinan ekstrem Banyumas jika bicara persentase hanya sekitar 1 sampai 2 persen atau 22 ribu jiwa dibanding 1,8 juta jiwa. Yang 12 persen itu data statistik untuk kemiskinan makro," pungkas Galih. (yda)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: