Sempat Berniat Mengakhiri Hidupnya, Kini Berhasil Membuka Lapangan Pekerjaan

Sempat Berniat Mengakhiri Hidupnya, Kini Berhasil Membuka Lapangan Pekerjaan

Sugiyo, saat mengerjakan pengecatan mobil di bengkel miliknya yang ada di Desa Kalikajar, Kecamatan Kaligondang, Kabupaten Purbalingga.-ADITYA/RADARMAS-

Awalnya, pada tahun 1993, dia belum divonis menderita Thalaemia. Dokter hanya menyebutkan penyakitnya sebagai anemia kronis. Sebab, dia diketahui sering sakit dan pingsan tanpa sebab.

"Saat di sekolah, saya sering dijauhi oleh teman-teman, karena sering sakit. Saya, disebut anak yang cileren dan mriyangen. Sebab, hampir tiga bulan sekali harus opname di rumah sakit," jelasnya.

Dia mengaku baru mengetahui, penyakit yang dideritanya merupakan Thalasemia, saat duduk di bangku SMK. Karena tak, ingin dicap anak cileren dia menutupi kekuragannya dengan menjadi anak yang nakal. Berbagai polah kenakalan anak sekolah pernah dilakoninya.

BACA JUGA:Aktivasi Identitas Kependudukan Digital Warga Kracak Banyumas Ditarget 200 Orang Per Hari

BACA JUGA:Persibangga Purbalingga Minta Suporter Penuhi Stadion Dalam Laga Kandang

Dia juga mengenang pengorbanan besar orang tuanya, yang ingin melihatnya sehat. Harga benda milik orang tuanya ludes dijual untuk berobat. Serta, untuk tranfusi darah rutin.

Sebab, saat itu masih belum umum penggunaan asuransi kesehatan yang didukung oleh pemerintah.

Dia mengaku, akibat penyakit Thalasemia tubuhnya juga gampang terserang penyakit. Dia mengaku, pernah terserang hepatitis, usus buntu, hingga gangguan empedu dan limpa. Bahkan, pada tahun 1997, dia harua menjalani operasi pengangkatan limpa.

Sebelum mendirikan bengkel mobil yang menjadi langganan sejumlah komunitas otomotif tersebut, Gio mengaku sering ditolak bekerja di sejumlah perusahaan. Karena penderita Thalasemia dianggap tidak produktif.

Gio mengaku sempat terpuruk dan berniat mengakhiri hidupnya, karena penyakit Thalasemia yang dideritanya. Dia merasa tak berguna dan selalu merepotkan orang lain.

BACA JUGA:Persibangga Purbalingga Minta Suporter Penuhi Stadion Dalam Laga Kandang

BACA JUGA:Kesadaran Bayar Retribusi Saluran Air di Purbalingga Minim

Beruntung, aksinya menyayat urat nadi untuk mengakhiri hidupnya diketahui oleh ibunya. Dia berhasil diselamatkan.

Ucapan sang ibu, yang mengaku akan selalu mendukungnya. Serta, akan sekuat tenaga mengobatinya untuk tetap terus hidup. Membuat dirinya tersadar dan bangkit.

Dia lalu bekerja ikut saudara di usaha pengecatan mobil di Jakarta dan di Purbalingga. Setelah dua tahun ikut bekerja dan mengetahui teknik dan cara terbaik dalam mengecat mobil, dia baru berani membuka usaha sendiri.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: