Omset Diatas Sejuta, Diminta Tinggalkan Subsisdi

Omset Diatas Sejuta, Diminta Tinggalkan Subsisdi

SEMARANG - Usaha Kecil Menengah (UKM) yang memiliki penghasilan dengan omzet di atas Rp 900 ribu per hari diimbau untuk menggunakan elpiji non subsidi. Asistant Manager Gas Domestic PT Pertamina MOR IV Jawa Tengah dan DI Yogyakarta, Anggora Dini mengatakan, UKM diperkenankan untuk menggunakan elpiji subsidi. Namun, kriteria UKM yang diperbolehkan hanya yang memiliki omzet maksimal sebesar Rp 300 juta setahun. "Jika dikonversi omzetnya dalam sebulan itu sebesar Rp 25 juta, atau sekitar Rp 1 juta per hari. Lebih dari itu tidak boleh," ujar dia saat ditemui dalam FGD Mekanisme Distribusi Elpiji 3 Kg Tepat Sasaran, di Hotel Chanti Semarang, Selasa (31/10). Sehingga, kata dia, restoran yang masuk dalam skala UKM tetapi pendapatannya melebihi dari Rp 300 juta sudah sepatutnya menggunakan elpiji non subsidi. "UKM yang tepat sasaran? itu lebih tepat untuk pedagang kaki lima, pedagang baso yang pakai gerobak dorong itu sesuai kriteria," jelas dia. Dini berharap, agen dan pangkalan juga bisa mendistribusikan langsung kepada konsumen yang tepat. Apalagi mendahulukan penyalurannya ke pengecer, sehingga akan membuat harga melebihi HET. "Kami juga sudah melakukan imbauan ke pangkalan untuk tidak mendahulukan ke pengecer. Pangkalan harus memprioritaskan ke konsumen langsung," kata dia. Kepala Subdit Pengangkutan Migas Kementerian ESDM, Nunuk Wiryawan, mengakui banyak yang tidak berhak mendapatkan subsidi, namun masih menggunakan elpiji subsidi. Sehingga, dia menekankan untuk dapat memperketat pengawasan distribusi elpiji 3 Kg tersebut. "Makanya pengawasannya diperketat. Yang peru diawasi rumah tangga mungkin sulit, tapi bisa ke warung-warung makan yang tidak masuk skala kecil untuk tidak menggunakan elpiji subsidi," ujar dia. Dia mengaku, akan melakukan evaluasi ke depannya karena mengingat PT Pertamina sebagai penyalurnya. "Rencananya pada 1 Februari 2017, akan dilaksanakan distribusi tertutup elpiji subsidi yang sampai sekarang masih dibahas," ujar dia. Sementara itu, Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Jawa Tengah menilai sebagian masyarakat masih belum bijak dalam menggunakan elpiji subsidi 3 Kg. Kepala Dinas ESDM Jawa Tengah, Teguh Dwi Paryono mengakui kesadaran masyarakat terhadap penggunaan elpiji 3 Kg masih minim. Sehingga pihaknya masih menemukan masyarakat yang menggunakan elpiji subsidi untuk pemanas air (water heater). "Penggunaan elpiji subsidi ini memang belum tepat sasaran. Masih ada yang menggunakan elpiji 3 Kg tidak sesuai peruntukkannya," jelas dia. Terlebih, kata dia, musim kemarau juga mendorong petani menggunakan elpiji tersebut untuk proses pengairan. Kendati demikian, pihaknya memastikan kesulitan warga mendapatkan elpiji 3 Kg tersebut bukanlah kelangkaan. "Karena jumlah kuota yang terserap sampai bulan September 2017 sudah mencapai 75 persen," katanya. Saat ini, diketahui jumlah kuota tabung elpiji 3 Kg pada 2017 sebanyak 311 juta tabung yang kuota?nya naik 6,2 persen dibandingkan 2016. (jpg)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: