Angkat Besi Tanpa Rival Utama Tiongkok

Angkat Besi Tanpa Rival Utama Tiongkok

Angkat besi cukup menjanjikan untuk mendulang banyak medali di multievent empat tahunan se-Asia tersebut. Dua medali emas berpotensi diraih dari Sri Wahyuni Agustiani di kelas 48 kg putri dan Eko Yuli Irawan di kelas 62 kg putra. Jumlah tersebut realistis jika menilik prestasi serta pencapaian angkatan yang diraih dua lifter elit tersebut beberapa tahun terakhir. Target dua tersebut sudah diamini Wakil Ketua PB PABBSI Djoko Pramono. ”Eko dan Yuni masih yang terbaik saat ini,” ucapnya kemarin. menilik progress angkatan, Keduanya, relatif stabil dan cenderung meningkat. Pada tes angkatan 24 Mei lalu, Yuni sukses memenuhi target total angkatan 205 kg. Perinciannya, snatch 89 kg dan clean and jerk 116 kg. Angkatan tersebut melebihi total beban yang diangkat lifter 23 tahun tersebut ketika pentas di Olimpiade 2016 Rio, Brazil. Yakni, seberat 192 kg dengan rincian snatch 85 kg dan clean and jerk 107 kg. Raihan Yuni tersebut juga sudah melebihi angkatan jawara Olimpiade 2016 asal Thailand Sopita Tanasan dengan 200 kg. ”Dengan angkatan jumlah tersebut cukup aman untuk Yuni dapat emas. Tinggal eksekusi resminya saat pertandingan Agustus nanti,” tutur Manajer Tim Angkat Besi Dirja Wihardja. Menilik prestasi lifter kelahiran Bandung empat tahun ke belakang, rasanya optimis target emas bakal terwujud. Pada edisi Asian Games 2014 Incheon, Korea Selatan, Yuni mampu menyabet medali perak di usia 19 tahun dengan total angkatan 187 kg. Dua tahun berselang, saat Olimpiade 2016, dia kembali mampu meraih medali perak. Sementara itu, Eko menunjukkan tren positif. Pada seleksi nasional yang digelar 27 Juni lalu, lifter asal Metro, Lampung tersebut mampu mengangkat snatch 142 kg dan clean and jerk 173 kg. Namun, angkatan tersebut bukan menjadi angkatan terbaiknya selama ini. Meski begitu, Eko masih memiliki masalah dengan berat badannya. Bobot tubuhnya kini berada di angka 64 kg. tergolong overweight untuk bertarung di kelas 62 kg. Hingga saat ini, dirinya masih menjalani diet sejak Maret lalu. Namun, tidak terlalu ketat. Momen sebulan puasa Ramadhan yang lalu, lanjut Eko, dia manfaatkan sebagai salah satu program untuk menunjang dietnya. Sebab, suami mantan lifter putri nasional Masitoh itu harus menjaga kondisi fisiknya usai terserang penyakit tifus, Februari lalu. Berat badannya berangsur-angsur sudah turun 7 kg sejak berbobot 69 kg pada April lalu. ”Saya nggak muluk-muluk harus turun cepat sekian kilo dan sauna selama berjam-jam. Bertahap, pelan-pelan saja tapi pasti,” kata Eko. Berkaca pada edisi Incheon, Eko tampil menjanjikan dengan membawa pulang medali perunggu di ajang pesta olahraga Asia itu. Yang istimewa, saat berlaga pada Olimpiade musim panas 2016, dia mencatatkan angakatan terbaik sepanjang karirnya. Yakni, total beban 312 kg dengan snatch 142 kg dan clean and jerk 170 kg. angka tersebut sekaligus menempatkan angkatannya di peringkat dua dunia Federasi Angkat Besi Dunia (IWF). Peluang meraih emas juga cukup terbuka dengan ketiadaan rival utama Tiongkok. Skuad lifter Negeri Panda terkena larang bertanding akibat kasus doping pada dua edisi Olimpiade terakhir. Mereka dilarang bertanding di kejuaraan apapun selama satu tahun sejak divonis IWF pada 1 Oktober 2017. Skuad Negeri Tirai Bambu menjadi pesaing utama lantaran memiliki lifter-lifter top kelas dunia. di kelas 62 kg, mereka memiliki pemegang rekor dunia angkatan di kelas 62 kg Chen Lijun. Chen tercatat memiliki angkatan seberat 333 kg dengan snatch 150 kg dan clean and jerk 183 kg. Sementara di sektor 48 kg putri, Hou Zhihui menjadi momok bagi Yuni. Tercatat, pada kejuaraan nasional 2017 di Tiongkok, Hou menorehkan total angkatan tiga kilogram lebih berat. Yakni, 208 kg. (han)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: