Kembali Gagal Atasi Kriptonnya, City Tak Berdaya Hadapi Tottenham

Kembali Gagal Atasi Kriptonnya, City Tak Berdaya Hadapi Tottenham

2 Tottenham Hotspur vs Manchester City 0 LONDON- Pep Guardiola bukanlah Superman yang tak terkalahkan. Kalaupun tactician Manchester City itu Superman, maka Mauricio Pochettino adalah kriptonnya. Titik lemahnya. Terbukti, City tak berdaya melawan Tottenham. Mereka kalah 0-2 di White Hart Lane tadi malam. Pochettino ibarat sudah punya penawar atas kejeniusan taktik Guardiola. Pada 2008-2009, dimana Guardiola masih melatih Barcelona, Pochettino sudah pernah mengatasinya. Hebatnya, ketika dia masih menangani Espanyol, tim yang dianggap anak bawang oleh Barcelona dalam derby. Kini, dengan Tottenham yang sejak musim lalu sudah stabil, Pochettino benar-benar menguji kejeniusan Guardiola. Hasilnya, mantan pelatih Bayern Muenchen itu harus mengakui keunggulan Pochettino sekali lagi. Bukan hanya di papan skor, melainkan juga dalam adu taktik di lapangan. Buktinya, taktik dan strategi Guardiola yang mampu menjadikan serangan City sebagai terganas di Premier League dengan 18 gol dalam enam laga pun dibuat tidak berkutik di depan tembok Spurs. Keunggulan The Lilywhites - julukan Spurs- lewat gol bunuh diri Aleksandar Kolarov (menit ke-9) dan Dele Alli (37') tidak bisa dibalas. Catat, ini kali pertama sepanjang era Guardiola klub yang berjuluk The Citizens tersebut tidak mampu menciptakan gol dalam satu pertandingan. Bahkan, solidnya lini pertahanan Spurs mereduksi jumlah tembakan yang mampu dilakukan David Silva dkk pada laga tadi malam WIB. Hanya 12 kali tembakan dilakukan City. Itu jumlah total tembakan per laga yang terendah dilakukan City musim ini. ''Malam yang hebat, kemenangan kami yang hebat menghadapi lawan seperti ini. Saya sangat berbahagia malam ini,'' ungkap Pochettino kepada BBC Sport. Pelatih yang lahir di Santa Fe, Argentina, 44 tahun silam itu menyebutkan bahwa pemainnya mampu menerapkan strategi dalam bertahan dengan baik. Strategi yang tidak jauh berbeda seperti saat dia mampu menaklukkan Guardiola bersama Barca-nya tujuh musim silam. "Meski, tidak mudah menaklukkan tim ini (City)," sebutnya. Kemampuan tersebut menegaskan defense Spurs sebagai yang terbaik di Premier League musim ini. Dari tujuh pekan pertama, gawang Hugo Lloris baru kebobolan tiga gol saja. Berterima kasihlah kepada Lloris dengan beberapa penyelamatan gemilangnya tadi malam. Bukan hanya Lloris. Untuk meredam serangan City, Pochettino bahkan meminta pemainnya sejak dari lini ketiga untuk membantu pertahanan. Victor Wanyama, Mousa Sissoko dan Christian Eriksen saja mampu mengisolasi serangan lini tengah Ciry yang menakutkan. Termasuk Wanyama dengan enam tekel terbanyaknya, dan Eriksen dengan empat intersepnya. Dengan cover dari lini tengah itu semakin menguatkan tembok back four di Spurs yang tampil full team. Danny Rose dan Kyle Walker yang paling kerja keras untuk menutup serangan sayap City. Begitu juga Jan Vertonghen dan Toby Alderweireld. Pochettino meminta pemainnya mempertahankan momentum bagus ini. Meskipun bulan Oktober bukan bulan yang terjal bagi Lloris dkk. Paling berat, Leicester City yang jadi penghadang laju Spurs (29/10). Dua lainnya hanya melawan West Bromwich Albion (15/10) dan Bournemouth (22/10). Dengan seperti itu, maka Spurs bisa menjadi ancaman City di puncak klasemen sementara Premier League. Setelah laga ini, keduanya hanya terpaut satu poin. City 18 poin di puncak, dan Spurs 17 poin di bawahnya. ''Yang perlu kami lakukan adalah tetap bermain konsisten seperti sejak awal musim ini. Yakinlah akan ada hal indah pada akhir kompetisi nanti,'' klaim Pochettino. Bukan hanya kuat dalam bertahan. Spurs juga cerdik dalam mencari celah di defense City. Salah satunya dari pergerakan Son Heung-min. Assist-nya di balik gol kedua Spurs jadi buktinya. Spurs bahkan bisa saja menambah keunggulan andaikan mampu mengeksekusi tendangan penalti 65. Penalti itu diberikan setelah Fernandinho melanggar Alli. Erik Lamela gagal mengeksekusinya setelah bola diblok Claudio Bravo. Sebelum mengambil tendangan itu, Lamela sempat berebut dengan Son. Harusnya, Son yang mengambil jatah penalti itu karena dia eksekutor ketiga setelah Harry Kane dan Vincent Janssen. Terlepas dari kegagalan penalti tersebut, dua gol sudah cukup melanjutkan tren Spurs selalu mengalahkan City. Di musim lalu, Spurs menang back to back atas City. Nah, bagi Guardiola ini menjadi pemutus rekor tidak terkalahkannya dalam 12 laga di musim ini bersama City dalam segala ajang. Selain itu, ini menjadi kekalahan tandang pertama Guardiola sejak Desember 2015 silam. ''Sejak awal saya sudah perkirakan bagaimana perlawanan mereka. Spurs klub yang sangat hebat dalam tiga musim terakhir. Mereka berani bertarung,'' ungkap Guardiola. Dia mengakui, timnya lambat bereaksi. Terutama setelah kesalahan Kolarov di dalam membuang bola yang menjadi gol bunuh diri. City bahkan harus menunggu 30 menit terlebih dahulu untuk bisa memberikan ancaman ke gawang Lloris. ''Dari segala aspek kami lambat,'' sesal Guardiola. Kekalahan ini terjadi hanya beberapa hari setelah City mengakhiri rekor selalu menang di segala ajang. Tepatnya ketiga ditahan Glasgow Celtic 3-3 dalam matchday kedua Liga Champions, 29 September lalu. Guardiola menyebut, hasil-hasil kurang bagus sepekan terakhir ini sebagai pelajaran berharga bagi timnya. ''Ini masih bulan Oktober, jangan bayangkan seperti apa dulu tim ini. Saya pun masih baru di sini. Sejauh ini, kami memang tampil hebat tapi kami butuh lebih dari ini. Ayo, kerja keras lagi,'' tambahnya. Berbeda dengan Spurs yang lebih enteng di Oktober ini, City lebih terjal. Fokus City harus terbagi di Premier League dan Liga Champions. Sebab, di Liga Champions Guardiola akan menghadapi mantan anak buahnya, Barcelona di matchday ketiga, 20 Oktober mendatang. Lima hari sebelumnya, melawan Everton yang tengah on fire pada pekan kedelapan (15/10) jadi tantangan City untuk bangkit. ''Ini bagian proses itu (lebih baik). Ini membantu kami untuk lebih baik,'' tegasnya. (ren)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: