29 Persen Anak di Banjarnegara Alami Stunting
BANJARNEGARA - Sekitar 29 anak di Banjarnegara mengalami stunting atau cebol/kerdil. Stunting merupakan kondisi gagal tumbuh pada anak balita akibat kekurangan gizi kronis.
Sehingga anak menjadi terlalu pendek untuk usianya. Meskipun cukup banyak, jumlah penderita stunting di Banjarnegara diklaim lebih rendah dibanding rata-rata nasional.
Ketua DPC Persatuan Ahli Gizi Indonesia (Persagi) Banjarnegara Nuruddin AG menjelaskan angka stunting di Banjarnegara berkisar 29 persen. "Masih dibawah angka nasional yang berkisar sekitar 30 persen," jelasnya, Rabu (28/8).
Menurut dia, kekurangan gizi bisa terjadi sejak bayi dalam kandungan dan pada masa awal setelah bayi lahir. Kondisi stunting baru nampak setelah usia dua tahun.
Dijelaskan, berdasarkan riset kesehatan dasar (Riskesdas) tahun 2018, angka stunting nasional sebesar 30,8 persen. Cenderung turun dibanding hasil Riskesdas tahun 2013 sebesar 37,2 persen.
Sedangkan hasil pemantauan status gizi dengan anak status pendek di Banjarnegara tahun 2016 sebesar 26,9 persen. Sedangkan tahun 2017 sebesar 30,1 persen.
Nuruddin menjelaskan bahaya stunting untuk jangka pendek akan membuat perkembangan otak anak terganggu. Pertumbuhan badan dan metabolisme tubuh, juga ikut terganggu. Sedangkan dalam jangka panjang, akan menurunkan kemampuan kognitif dan belajar. "Anak yang stunting tumbuhnya lebih pendek dan beresiko menderita penyakit pembuluh darah seperti hipertensi, penyakit jantung koroner, stroke dan beresiko penyakit metabolisme seperti diabetes dan obesitas," jelasnya.
Dikatakan, penanganan stunting dimulai sejak dini, yaitu mulai awal kehamilan. Sejak ibu mengandung, janin tidak boleh kekurangan gizi agar pertumbuhannya optimal. Dan setelah lahir, bayi juga tidak boleh kekurangan gizi. "Bayi yang baru lahir sampai enam bulan harus ASI ekslusif. Dan setelah enam bulan, bayi diberi makanan tambahan yang bergizi," jelasnya.
Dengan terpantaunya pertumbuhan dan perkembangan anak, maka stunting bisa dicegah sejak dini jika terjadi gagal tumbuh dan gagal kembang. "Dan perlu diketahui, kekurangan gizi apabila sudah mempengaruhi tumbuh kembang, anak akan semain sulit untuk tumbuh dan berkembang secara optimal," jelasnya. (drn)
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
