Banner v.2

Pelestarian Budaya, Ekskavasi Situs Lingga Yoni Sumberadi

Pelestarian Budaya, Ekskavasi Situs Lingga Yoni Sumberadi

Tim Ahli Cagar Budaya Kebumen melaksanakan ekskavasi situs Lingga Yoni di Desa Sumberadi, Senin (20/10)--

KEBUMEN - Upaya pelestarian warisan budaya kembali dilakukan di Kabupaten Kebumen. Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Kebumen melaksanakan kegiatan ekskavasi pada situs Lingga Yoni di Desa Sumberadi, yang didampingi langsung oleh Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah X (BPK X), Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia.

Kegiatan ekskavasi ini melibatkan sejumlah tenaga ahli dari berbagai disiplin ilmu, di antaranya Dr. Chusni Ansori sebagai geolog, Ir. Imam Muthoha selaku arsitek, Giri Purnomo sebagai arkeolog, serta Arif Priyantoro S.Sos seorang sejarawan dan budayawan, Senin (20/10/2025)

Dalam kesempatan tersebut, Ibu Wardiyah, S.Hum., M.A, arkeolog dari Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah X, menyampaikan apresiasi tinggi kepada Pemerintah Kabupaten Kebumen yang telah berani mengambil langkah konkret dalam pelestarian warisan budaya melalui kegiatan ekskavasi.

“Ekskavasi ini merupakan langkah penting dalam upaya mencari data arkeologis yang masih tersimpan di dalam tanah. Kegiatan ini dilakukan oleh tenaga ahli yang kompeten dan sesuai dengan ketentuan undang-undang serta peraturan pemerintah, sehingga dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah,” ujar Wardiyah.

Wardiyah menambahkan, berdasarkan data di Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah X, Lingga Yoni Sumberadi saat ini masih tercatat sebagai benda ODCB atau Obyek Diduga Cagar Budaya, namun telah mengalami kemajuan di lapangan dan telah ditetapkan secara resmi sebagai Cagar Budaya oleh Pemerintah Kabupaten Kebumen, melalui sidang TACB. 

Ia berharap, status tersebut dapat terus ditingkatkan menjadi Struktur Cagar Budaya, bahkan ke depan menuju Situs Cagar Budaya. Meski proses tersebut harus dilakukan secara berjenjang, Wardiyah menilai hal itu sangat bergantung pada kelengkapan dokumen ilmiah dan dukungan Pemerintah Kabupaten bersama TACB Kebumen.

Sebagai arkeolog yang juga tergabung dalam TACB Sukoharjo, Wardiyah memahami berbagai kendala di lapangan, termasuk perubahan regulasi cagar budaya yang kini menuntut tahapan yang lebih ketat , dari penetapan sebagai benda cagar budaya hingga pengakuan sebagai situs setelah ditemukan benda-benda pendukung di satu kawasan.

Dari hasil ekskavasi awal, tim menemukan adanya struktur bata kuno yg masih utuh  dg ukuran 40x 20 x 10 Cm, potongan bata kuno,   serpihan keramik, komponen batuan, komponen karbon  yang berada pada lapisan tanah merah kecoklatan di bawah permukaan tanah di sekitar Lingga Yoni. hHal ini  menjadi indikasi kuat bahwa lokasi tersebut merupakan bagian dari situs yang lebih luas. Menurutnya, hal ini membuka peluang besar untuk pengembangan kajian lanjutan serta potensi pemanfaatan sebagai wisata edukasi sejarah.

Giri Purnomo S.Ar selaku Arkeologi sangat tertarik untuk membuktikan bahwa lokasi lingga Yoni ini termasuk situs budaya era Hindu, dimana model Yoni di lokasi ini sangat istimewa dan jarang dijumpai ditempat lain.

“Karena lokasi Lingga Yoni berada di sekitar area sekolah, perlu dipertimbangkan langkah pengamanan seperti pemagaran untuk melindungi temuan tanpa menghalangi akses edukasi. Pemagaran bukan untuk membatasi masyarakat, tetapi memberi batas aman bagi pelestarian,” jelasnya.

Ketua TACB Kebumen, Dr. Chusni Ansori, menegaskan bahwa ekskavasi ini bertujuan untuk menggali data dan informasi ilmiah yang selama ini masih tersembunyi di bawah tanah.

“Kami berharap dukungan dari semua pihak agar proses penelitian ini dapat berjalan baik dan menghasilkan temuan yang memperkaya narasi sejarah serta pengetahuan tentang peradaban masa lalu Kebumen,” ujarnya.

Sementara itu, Ir. Imam Muthoha dari unsur arsitek TACB Kebumen menyampaikan, hasil ekskavasi nantinya akan dilanjutkan dengan penyusunan dokumen rekomendasi tindak lanjut, termasuk konsep penataan lingkungan situs.

“Area Lingga Yoni Sumberadi yang berada di kompleks sekolah memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai Wisata Edukasi Cagar Budaya. Bila memungkinkan, bangunan sekolah dapat direlokasi sebagian, atau justru fungsi pendidikan dikolaborasikan dengan pelestarian cagar budaya. Ini akan memberikan nilai tambah bagi sekolah karena memiliki konten pembelajaran langsung dari warisan budaya,” jelas Imam.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: