PHK Bukan Solusi, Tapi Cermin Retaknya Strategi
Edy Permana Setyawan.--
Sebagian besar divisi HR hanya menjadi pelaksana PHK, bukan bagian dari strategi keberlanjutan jangka panjang. Ini yang membuat keputusan perusahaan sering dianggap “dingin” dan tidak manusiawi.
Solusi: Bukan Berhenti di Pemutusan, Tapi Memulai dari Penataan Ulang
Dalam situasi tekanan tinggi, yang dibutuhkan organisasi bukan hanya efisiensi tetapi reorganisasi dan reidentifikasi nilai. Berikut pendekatan yang bisa dipertimbangkan:
- Audit model bisnis, bukan hanya audit keuangan. Apakah produk dan layanan masih relevan dengan tren pasar? Jika tidak, PHK bukan solusi—tapi transformasi menyeluruhlah jawabannya.
- Membangun unit reskilling internal. Alih-alih langsung memutus, arahkan tim ke unit baru, atau bekali mereka dengan kompetensi baru. Tokopedia dan Telkom telah mencoba pendekatan ini dalam beberapa unit kerja.
- Humanisasi proses PHK. Bila PHK tidak bisa dihindari, sampaikan dengan transparan, libatkan profesional psikologi kerja, siapkan transisi karier, dan jaga hubungan pasca-kerja.
- HR sebagai strategic partner, bukan sekadar eksekutor. Perubahan struktur organisasi harus diikuti oleh perubahan paradigma manajerial.
Kita mungkin tidak bisa menghentikan perubahan ekonomi global, tekanan pasar, atau kemajuan teknologi. Tapi cara organisasi merespons itulah ukuran sesungguhnya dari kepemimpinan dan kapasitas manajerial.
Organisasi yang bertahan bukan yang paling besar, tapi yang paling adaptif. Dan adaptasi itu dimulai dari cara mereka memperlakukan orang-orang di dalamnya.
Jika 2025 menjadi tahun penuh pemutusan, maka 2026 seharusnya menjadi tahun penataan ulang nilai, kompetensi, dan relasi antara perusahaan dan manusianya.
(Edy Permana Setyawan, Mahasiswa Pascasarjana Fakultas Ekonomi dan Bisnis Prodi Ilmu Manajemen, Universitas Jendral Soedirman)
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:

