Senjata Organik Kemungkinan dari Filipina
[caption id="attachment_95600" align="aligncenter" width="100%"] Grafis Teror[/caption] DARI MANA asal senjata yang digunakan para pelaku teror di Sarinah masih menjadi teka-teki. Polisi menyebut senjata yang digunakan merupakan organik. Sementara beberapa pihak seperti mantan instruktur perakitan bom Jamaah Islamiyah Ali Fauzi menyebut senjata yang digunakan sepintas seperti rakitan. Diduga senjata itu berasal dari luar negeri. Sumber Jawa Pos di Kepolisian menyebutkan kemungkinan senjata tersebut didapat dari Filipina melalui penyelundupan jalur laut. "Setahu saya jalur yang masih terbuka ya disitu (jalur Filipina)," ujar sumber tersebut. Selama ini polisi mencurigai adanya pasokan senjata dari Moro, Filipina. Senjata tersebut dikirim melalui kapal-kapal pencari ikan lewat pelabuhan tradisional yang ada di Kepulauan Maluku. Dari Maluku, senjata biasanya dibawa ke daerah-daerah di Sulawesi. Sumber itu mengatakan sampai saat ini yang terindikasi adnaya senjata-senjata ilegal ialah Sumatera, Sulawesi dan Maluku. Senjata di Sumatera kebanyakan rakitan maupun rampasan. "Tapi kalau yang di Sulawesi dan Maluku ya kemungkinan organik dari Filipina," ujarnya. Dulu senjata ilegal juga terindikasi beredar di Kalimantan dan perbatasan Timor Leste. namun sekarang tidak lagi. Pernyataan tersebut diamini oleh Pusat Pelaporan dan Analisa Transaksi Keuangan (PPATK). Wakil Ketua PPATK Agus Santoso mengungkapkan lembaganya pernah mengindikasikan adanya transaksi mencurigakan ke Filipina yang diduga berkaitan dengan kegiatan terorisme. "Dugaannya memang untuk pembelian senjata. Data itu sudah kami sampaikan ke Densus. Mereka harus follow the suspect," ungkapnya. Uang yang digunakan untuk membeli senjata itu diduga berasal dari Timor Tengah. Uang diarahkan ke sayap-sayap organisasi radikan di Indonesia dan kemudian digunakan untuk membeli senjata di Filipina. Agus mengatakan fenomena pembiayaan terorisme di Indonesia kini berubah. Jika dulu banyak indikasi dana diperoleh dari aksi kriminalitas (perampokan dan sebagainya) dan penggalangan melalui sekedah, kini tak lagi begitu. "Tiga tahun belakangan prakteknya melalui pengelolaan perusahaan," terang pejabat yang berasal dari Bank Indonesia tersebut. Perusahaan itu diduga sebagai modus pencucian uang. Dana yang didapat dari Timor Tengah agar tidak mencolok dikirim ke rekening perusahaan. Pengiriman itu bisa mencapai miliran. Perusahaan itu dibuat seolah-olah memiliki aktivitas dengan melakukan transaksi-transaksi bisnis. Agus tak mau merinci perusahaan yang terindikasi melakukan praktek tersebut. Dia beralasan takut mengganggu kerja Densus 88. Sebab data itu sudah diserahkan semua ke Densus 88. "Modus ini terjadi di beberapa daerah di Indonesia, tapi saya tidak bisa sebut daerahnya," ujarnya Sementara Kadivhumas Mabes Polri Irjen Anton Charliyan menjelaskan, ada dua senjata jenis FN dan rakitan yang ditemukan dalam aski teror tersebut. Saat ini senjata itu sedang diperiksa Puslabfor Polri. "Semuanya diperiksa mendalam," tuturnya. Namun, soal asal dari senjata itu bisa diprediksi, yakni kiriman dari luar negeri, sisa konflik atau merupakan barang curian. Semua kemungkinan itu bisa saja menjadi asal muasal dari pistol yang digunakan oleh para pelaku. "Tapi, kemungkinan yang paling kecil adalah kiriman dari luar negeri. Itu karena memerlukan biaya yang tidak sedikit untuk mengirim ke Indonesia. Kalau mengirim juga tentunya lebih baik dalam jumlah besar ," paparnya. Karena itu, kemungkinan paling besar tentunya membeli di Indonesia. Tentunya yang berupa rakitan dan untuk yang organik itu sisa dari konflik. "Namun, untuk kepastiannya tunggu dari Puslabfor ya. Semua diperiksa mendetil," tegasnya. Terkait lima bom yang ditemukan, Anton menjelaskan bahwa bom rakitan itu berdaya ledak rendah. Namun, ada satu bom yang ukurannya ekstra besar, kemungkinan berdaya ledak tinggi. "Dengan ada bom ukuran besar, kami menduga ini untuk meledakkan saat sudah berkumpul banyak petugas dan masyarakat. Biar dampaknya lebih besar," tuturnya. Soal asal muasal bom rakitan, dia mengaku belum mengetahui. Nantinya, Puslabfor Polri yang akan mengumumkan terkait bom tersebut. "Masih diperiksa, yang pasti ada kandungan gotri, paku dan semacamnya," jelasnya. Untuk zat kimia dalam bom tersebut, juga belum diketahui. Dia mengatakan bahwa yang pasti bom ini dirakit di Indonesia. Tentunya, dengan membeli bahan-bahan kimia di Indonesia. "Sekarang ini ada banyak cara merakit bom dan bahannya juga bermacam-macam," ujarnya. Bom Waktu Terorisme dari Dalam Lapas ` Terpisah Ditjen Pemasyarakatan I Wayan Dusak tak mau disebut pihaknya teledor mengintai pergerakan para narapidana terorisme yang diduga masih bisa saling berkomunikasi dengan jaringannya. Dusak mengatakan kemungkinan komunikasi antara napi dan pihak luar kemungkinan bisa terjadi saat pembesukan. Seperti polisi dalam film-film India, Ditjen Pemasyarakatan pun kemarin baru mengambil tindakan pengetatan pasca teror Sarinah. Kemarin, Wayan mengirim pesan ke seluruh Kepala Divisi Pemasyarakatan di seluruh Kanwil Kementerian Hukum dan HAM agar melakukan pengetatan ruang gerak napi terorisme. Dia memerintahkan lapas meningkatkan kewaspadaan dan antisipasi dengan melibatkan pihak keamanan setempat. Persoalan napi terorisme jika tidak mendapatkan pembinaan yang baik di Lapas memang bisa menjadi bom waktu. Saat ini di Indonesia tercatat ada 159 narapidana kasus terorisme. Napi kasus terorisme terbanyak antara lain berada di Rutan Kelas II B Buntok Kalimantan Tengah (26 orang), Lapas Cipinang (17), Lapas Batu Nusakambangan (17), Tangerang (11), Cibinong (8)Kembang Kuning Nusakambangan (8), Cirebon (8), dan Pamekasan (7). Sementara itu, Ditjen Imigrasi belum bisa memastikan apakah paspor yang beredar atas nama Muhammad Bahrunnaim asli atau tidak. Kepala Humas dan Tata Usaha Heru Santoso mengungkapkan bisa jadi paspor tersebut dipalsukan. "Kami perlu cek database di kantor imigrasi yang menerbitkan dulu," kilah Heru. Menurut dia, pembukaan database tidak bisa dilakukan langsung. Harus ada izin berjenjang.(gun)
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
