Menghemat Ongkos, Konsultasi Dokter Melalui Video Conference
[caption id="attachment_102815" align="aligncenter" width="100%"]
Kepala tim dokter Modern Cancer Hospital Guangzhou dr Bill Peng bersama wartawan Jawa Pos Tomy C. Gutomo. FOTO: JAWA POS PHOTO.[/caption]
Melihat Pengobatan Kanker Terpadu di Guangzhou, Tiongkok
Kemampuan sel kanker membelah diri jauh lebih cepat daripada sel normal. Itulah sebabnya penyakit ini mudah menyebar dan sulit disembuhkan. Selain itu, selalu hampir meninggalkan cacat permanen pada penderita. Dan dari semua kasus kanker, terbanyak adalah kanker payudara.
Tomy C. Gutomo, Guangzhou
HARI ini, 18 April 2016, Modern Cancer Hospital Guangzhou, Tiongkok, meresmikan klinik khusus penanganan kanker payudara secara terpadu.
Dengan adanya klinik khusus ini, "Kami berharap kanker payudara bisa ditangani sedini mungkin dengan tingkat kesembuhan secepat mungkin sehingga pasien tidak perlu kehilangan payudaranya," jelas Wang Huaizhong, kepala rumah sakit tersebut.
Seperti diketahui, sel kanker memiliki kemampuan berkembang biak yang jauh lebih cepat daripada sel normal. Tak terkecuali kanker payudara.
Bukan hanya itu, kemampuan kabur (melarikan diri) sel kanker tidak sama. Ada yang "lari"-nya lebih cepat daripada yang lain.
Karena itu, kini immunotherapy di Modern Hospital lebih canggih daripada tahun-tahun sebelumnya. Kalau delapan tahun lalu mereka hanya mendayagunakan dua jenis sel antikanker (DC dan NK/CIK), kini ada lima jenis. Yakni, sel DC, CTL (cytotoxic T-lymphocytes), NK/CIK (natural killer/cytokine induced killer), T (bodyguard antitumor), dan CD3AK (pelopor pembunuh tumor).
Menurut dr Zhang De Chun, pemimpin departemen biomedik yang menangani terapi sel imunitas, "DC (dendritic cell), ibarat radar, bisa menemukan sel tumor di dalam tubuh. Namun, ia tidak bisa membunuh sel tumor tersebut. Karena itu, sel DC mengajak sel CIK (cytokine-induced killer) yang punya kemampuan membunuh sel tumor sekaligus menghadang sel-sel kanker agar tidak bisa menyebar,” kata perempuan 45 tahun itu.
Cara pengambilan lima sel tersebut sama dengan dua sel sebelumnya yang diambil dari darah pasien. Dengan menggunakan lima sel itu, peluang "kabur" bagi sel-sel kanker yang mana pun diharapkan semakin kecil. Dengan demikian, metastasis atau persebaran kanker bisa lebih diminimalkan.
Manfaat sistem lima sel itu sangat besar, terutama bagi jenis-jenis kanker yang tidak bisa diatasi dengan sistem pembekuan. Misalnya, kanker lambung, usus, dan otak.
Mengapa kanker-kanker itu tidak bisa di-cryo? Sebab, menurut Prof dr Bill Peng Xiaochi, proses cryo menggunakan jarum yang ditusukkan pada objek kanker dan menimbulkan lubang. Bayangkan lubang itu ada di usus. Maka, isinya akan merembes keluar dan merusak seluruh jaringan di dalam rongga perut.
Lain lagi lambung dan otak. Dua organ tersebut tidak boleh kemasukan udara dari luar.
Kembali ke sistem lima sel tadi, kemampuan tubuh meningkat untuk melawan sel-sel kanker secara natural. Dengan demikian, responsnya terhadap obat, kemo, dan radiasi jadi lebih baik. Pasien pun lebih cepat sembuh.
Sel kanker tidak hanya lebih cepat berkembang biak, tetapi "makan"-nya juga lebih banyak daripada sel normal. Sel-sel jahat itu mengambil makanan dari jaringan-jaringan yang dia tempati dan dari pembuluh darah yang melewatinya. Karena itu, penderita kanker cenderung makin kurus, kekurangan gizi dan darah.
Selain membekukan dan menambah jumlah sel-sel pembunuh kanker, Modern Cancer Hospital memperkuat tubuh pasien dengan memberikan obat-obat tradisional China. Dengan begitu, perlawanan tubuh terhadap sel kanker juga makin besar.
"Yang tidak kalah penting adalah kondisi psikis pasien," tambah Kepala Modern Hospital Wang Huaizhong kepada para undangan dari Ikatan Naturopatis Indonesia (IKNI) Medan dan Surabaya, tim dokter RS Adi Husada Surabaya, wartawan TVRI Medan, harian Analisa Medan Anthony Limtan, harian Qian Dao Surabaya Darmawan Untario, wartawan Jawa Pos Tomy C. Gutomo, dan Direktur Jawa Pos Holding Nany Widjaja Kamis lalu (14/4).
Pihak rumah sakit juga mempertemukan para undangan dengan tim dokter yang menangani pengobatan kanker. Mereka adalah Wakil Kepala RS Chen Bing Prof dr Wang Xin (ahli bedah), Prof dr Guang Xingguo (ahli pengobatan tradisional/TCM), Prof dr Liu Lvguang (onkologi internis), Prof dr Bill Peng Xiaochi (kepala departemen onkologi), dr Zang De chun (ahli immunoteraphy/biomedik), dan dr Dai Wenyan (ahli cryoteraphy).
Faktor psikis memiliki pengaruh yang sangat besar dalam pengobatan kanker. Sebab, kondisi psikis sangat memengaruhi imunitas pasien. Padahal, imunitas itu salah satu faktor penting yang dibutuhkan untuk melawan sel-sel kanker.
Karena itu, pelayanan pasien di sana bertujuan untuk membuat mereka merasa seperti di rumah. Senang, nyaman, tak punya kendala dalam berkomunikasi dengan dokter dan perawat supaya lupa pada kondisi sakitnya.
Untuk itu, Modern Hospital menyediakan penerjemah untuk sembilan bahasa. Di antaranya, Indonesia, Inggris, Prancis, Arab, Thailand, Malaysia, Filipina, dan Jepang.
"Pasien dari Indonesia sendiri rata-rata 1.000 orang setiap tahun. Dari Surabaya saja bisa sampai 200 orang,"’ kata Xu Wenhu, general manager perwakilan Modern Cancer Hospital untuk Surabaya dan Medan. Di Indonesia, Modern Hospital memiliki tiga perwakilan. Yakni, Surabaya, Medan, dan Jakarta.
Pasien juga diajak berwisata di Guangzhou dan sekitarnya. Yang ingin ke tempat ibadah, misalnya gereja atau masjid, juga diantarkan. Selain itu, ada kelas bahasa Mandarin, kerajinan tangan, hingga tai chi.
Para pengelola Modern Hospital menyadari bahwa beban psikologis pasien tidak hanya datang dari penyakit dan komunikasi, tetapi juga akibat beban finansial dan lamanya tinggal di rumah sakit.
Untuk memangkas dua beban terakhir itu, Modern Hospital menyediakan fasilitas konsultasi jarak jauh dengan menggunakan video conference dari kantor-kantor perwakilannya.
Caranya mudah. Kirim semua data ke kantor perwakilan. Rumah sakit akan menentukan jadwal konsultasi. Ada dokter spesialis, penerjemah, dan operator komputer yang siap di depan kamera selama konsultasi.
Dengan begitu, konsultasi bisa dilakukan sambil melihat data pasien, sama dengan saat dokter dan pasien duduk berhadapan.
Setelah itu, barulah pasien diberangkatkan. Dengan begitu, saat pasien tiba di Guangzhou, dokter bisa langsung mengambil tindakan. Tidak perlu dari nol lagi.
Dan di situ, jumlah dokter yang menangani tiap pasien tidak sama. Bergantung pada kondisi kanker, persebarannya, dan kondisi umum si pasien. Cara itu juga bisa mempercepat penanganan tanpa ada tumpang tindih dalam pemeriksaan maupun obat. (*)
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
