Sumur Gerabah Gebangsari, Diduga Jejak Peradaban Kuno
SUMUR GRABAH : Ketua pengelola Kampung Gerabah Desa Gebangsari saat menunjukan situs sumur gerabah. IMAM/EKSPRES
KEBUMEN- Sejumlah benda kuno mulai dari pecahan gerabah, batu, batu lumpang hingga tujuh sumur gerabah di Desa Gebangsari Kecamatan Klirong kini tengah diteliti oleh Balai Arkeologi (Balar) Yogyakarta. Temuan-temuan benda kuno tersebut diduga merupakan peninggalan peradaban kuno yang ada dipesisir laut selatan.
Salah satu tokoh sejarawan Kebumen Ravi Ananda menyampaikan tradisi membuat gerabah yang dilakukan oleh warga Desa Gebangsari secara turun dinilai mempunyai hubungan erat dengan akar sejarah yang berkembang di desa setempat. Sebelum kawasan setempat dinamai dengan Desa Gebangsari, dalam jejak sejarah dikenal dengan nama Kebobang. “Adanya temuan sejumlah pecahan keramik Cina dan India di Kebobang atau Gebangsari membuktikan sudah adanya kegiatan pertukaran atau perdagangan. Ini antara warga pribumi dengan daerah atau negara lain,” terangnya, beberapa waktu lalu.
Penemuan tujuh sumur gerabah di desa tersebut, menurut Ravi merupakan jejak sejarah yang diperkirakan sudah ada sejak zaman Kerajaan Majapahit. Ini sekitar abad ke-13 atau tahun 1293 Masehi. Ketujuh sumur tersebut menandakan di kawasan yang dulu bernama Kebobang atau yang kini dikenal dengan Desa Gebangsari itu pernah ada sebuah permukiman kuno. “Ketujuh sumur itu namanya sumur jobong. Sumur gerabah itu biasanya menyimbolkan periode zaman majapahit atau sering disebut sumur majapahitan,” ungkapnya.
Pembuatan gerabah di Gebangsari, diduga sudah ada jauh lebih awal dari periode Majapahit. Ini karena adanya temuan gerabah motif di selatan Gebangsari yang diduga sudah ada sejak awal masehi. Adanya temuan keramik Cina membuktikan pada masa itu di Gebangsari sudah ramai dan ada pedagang-pedagang. Kawasan tersebut dulu memang kawasan bandar perdagangan laut di wilayah.
“Dulu pernah dilakukan penelitian arkeologi pada tahun 1984 di Kebobang. Ada temuan yoni, batu nisan menggunakan bagian pelipit candi, gerabah dan keramik kuno. Dugaan sementara Gebangsari itu bekas wilayah pemukiman kuno,” paparnya.
Sementara itu, Ravi menyampaikan batu lumpang yang ditemukan di areal persawahan desa setempat merupakan struktur bangunan pada masa lalu. Ini diduga itu adalah peralatan untuk menumbuk yang digunakan oleh masyarakat pada masa itu. Terkait adanya temuan situs makam Maduseno, Maduretno dan Prabu Jaka dikawasan setempat menandakan dulu dikawasan itu ada sebuah peradaban. (mam)
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:

